| bunga-bunga hutan di pusara Daniella |


Tak pernah setiap detik pun aku tak mengenangmu. Tak pernah setiap hari berlalu pun aku tak mengingatimu, dalam doa, dalam damai kenangan kita. Di sini lah destinasi kami saban minggu. Mengujungi mu. Bersenandung bersama helus angin yang menuip-niup hati kami yang sayu. Hati kami pasrah, tabah dan tak mampu menangis lagi.
Namun terkadang airmata itu tak mampu ditahan demi kerinduan yang tak mungkin akan pernah ditebus sampai nyawa tak lagi bersama jasad ini. Hijau rumput menghiasi hamparan permaidani di sekitar rumah perbaringan mu ini, menyejukkan mata-mata kami yang selalu digenangi airmata pilu.
Pusara mu tenang damai, setenang nafas mu waktu kau menghembusnya di hadapan mata ku, buat kali penghabisan. Aduhai anak, betapa kejamnya perpisahan ini. Pusara mu tempat ku bermenung, menyesali diri, berdoa dan bersujud memohon padaNya, lantas berdiam diri, kaku dan terkadang melayan tangis sendirian, di dalam hati.
Di sini aku dan adik-adik mu berlari berkejaran, mengusik kupu-kupu pagi, menghayati indahnya pepohon liar dan bunga-bunga hutan, menangkap matahari yang datang menyusur di celahan dedaunan dan menyimpannya dalam balang memori, untuk kami rindukan di hari-hari mendatang, agar kami bisa lagi kembali ke sini, menemui mu, anak, dalam damai panorama rumah mu ini.
Sungguh kau anak yang tak pernah meminta apa-apa selain kasih. Demi Tuhan yang maha kuasa dalam segala sesuatu..tak pernah sedikit pun aku menyesali akan kelahiran mu. Kau sesuci semulia kewujudan mu, menyedarkan aku yang alpa, akan keinsanan sebenar, keinsafan yang maha ikhlas, kasih sayang tak memilih kudrat, semua ciptaanNya walau ditakdirkan tak sempurna, meminta ku jangan pernah menyesal walau sekelumit kerana kau anugerahNya yang teristimewa. Terima kasih anak, moga kau tenang di sana, di alammu..kami rindu pada mu, terlalu merindukan mu.
Pa'al
Entah bagaimanakah harus aku nyatakan padamu saat-saat kami ingin berdoa? Abang teringat satu sajak.
BalasPadamBaru teringat.Kalau tak silap Sajak pyan habib dalam dewan sastera tahun 80-an. Saya peminat pyan. baru saja terjumpa blognya http://pyanhabib.blogspot.com
BalasPadamTak ingat apa judulnya, tapi sajak itu berbunyi
Entah bagaimanakah harus kunyatakan padamu
saat-saat aku ingin berdoa.
oooOOooo....timakasi banyak-banyak abg. nad..!! u r the star..
BalasPadamSaya tersentuh sebenarnya ketika membaca Pusara Terindah ini Pena Alam....
BalasPadamHah, dan lagi satu. Gambar kedua itu, permata hati saya pernah bercerita ingin makan buah itu lagi. Setelah digambarkan, saya mengerti. Gambar itu pula menjadi jawapan kepada tekaan saya terhadap gambaran yang diberikannya. Terima kasih, Pena Alam.
BalasPadam:)
aranam..
BalasPadamtrimakasi kerana mengerti. susah menggambarkan kepedihan hati bila ditinggalkan. bukan sekejap, tapi selamanya. apalah lagi yang tertinggal bila kita tak sempat pun mengucapkan selamat jalan. hanya pilu dan sebak mengisi hari-hari yang derita. bunga hutan itu, dulu saya tak pernah merasa ia cantik. namun kini, ia menghiasi pusara puteri sulung saya. bergulung-gulung ia tumbuh ke langit, membuat saya bermenung, mendongak ke langit. betapa cantiknya bunga hutan itu, bila kita melihat dengan mata hati, terima kasih aranam.