menulis untuk diri.

DUNIA SKUBA PA'AL

DUNIA SKUBA PA'AL

Puisi Kupu-kupu Laut

Puisi Kupu-kupu Laut
(Hadiah Sastera Sabah, Dewan Bahasa & Pustaka; 2008/2009 pada 27 Disember 2010, Teluk Likas, Kota Kinabalu)
Berterbangan kami
ikut tari arus lautan
dari puncak ke puncak
beraksi menebar sayap
lantas hinggap di batu karang
lalu menguap atas putih pasir
melelap pipi di punggung samudera
lalu terjaga pada kocak kaki
si penyu tampan yang berdansa naik
menyapa muka laut melihat matahari

Terbang kami dalam girang
menuju ceruk menghijau
menyunting gunung laut
yang berhias tulang polips
lalu jadi sekujur terumbu
berhabitatlah bintang laut
bersama si tajam landak
jutaan famili si ketam-ketam
juga si anemone penyamar licik
di apit sang kuda bertaut di rumpai
berdamai rasa pada si teri-teri

Terkadang di kembara membiru
berharap kami si manta sembul
dalam wibawa drakula lautan
atau si tampan sang jerung tukul
muncul dalam kawanan gagah
paling tidak si jerung bintik
yang anggun membelai arus
membuat rahang terkesima
mengota jambangan janji temu
mengabul seberkas harapan
sekawan kupu-kupu laut

Puing-puing nafas kami
menghembus dari dasar
melambung jadi buih-buih
perlahan naik lalu menerjah
muka laut dihiasi planktonis
sayap-sayap kami menari
mengusik sekawan ikan putih
yang mudik di parit samudera
melambai lirik garang si Pogot
memujuknya jangan mengigit
tika gemalai kami melintas
atas teratak telur-telurnya

Terkadang kami berhenti
melihat kunang-kunang laut
yang terbit di sinar cahya
bila kami terbang di malam
tika perahu sang nelayan
belayar dibayang rembulan
kami di dasar perut bergelapan
namun celik rasa terpaut
pada formasi lembut si terumbu
yang berkerlipan dalam gelita
menerbit tulus warnai pandang
membuat kami terkagum

Wahai kekasih ku sang lautan
kami memuja ujana mu
usah henti memerintah ombak
membelah badai singgahi pantai
kerna disini mati pun tak apa
asal roh kami bisa abadi
terbit mencium harum laut
berkejaran terus dalam arus
melebur elus dalam alun citra
menjadi kupu-kupu mu


Pena Alam
110509
Mabul-sipadan-kepalai-layang layang-pandanan-ligitan-menampilik,sombrero island,tar park islands

(Utusan Borneo, 17 Mei, 2009 )

Sayangi Lautan!

Sayangi Lautan!
sahabat lautan..sahabat kita !

Pada 1 Januari 2000, saya bersama puluhan penyelam skuba dari seluruh dunia, menyambut tahun baru juga millenium baru dgn melepaskan anak2 penyu ke laut lepas di Pulau Layang-Layang, Sabah

Khamis

You're so fine


(Guba Feat. Yuna)

It feels like December 
The birds flew across my bedroom window 
And the spiral staircase 
That we used to hang around 'til 3 in the afternoon 

I remember that day 
The purple hoodie that you're wearing 
And the smile up on your face 
Your hair was flowing in the air 
As you were sitting by my side 
You moved me with your tides 

You're so fine 
And I wouldn't do anything 
To deny you 
And I would die for 
You.. 

Oh baby don't despair 
You're not alone I'm always there 
I wish I was the one who's scared 
Of the sickness that you bear 
For as long as I could stay 
I'll be happy just to see you smile for another day 

But you're gone now 
Oh so far gone now 
Where the trees are green and cloudy grounds it seems 
But my time will come 
Oh so let it come 
Where we'll meet again 
Until the end of time


Guba di Laguna Music


Sabtu

Alhamdulilah.

Kejutan pagi untuk saya! Tahniah untuk Guba. Saya masih ingat di carta ini, mula-mula masuk tersenarai di dalam carta Malaysian Top 40 si Guba berada di kedudukan 31, selepas itu, naik 23, kemudian 21... tiba-tiba naik ke no. 5 selama 2 minggu sahaja, selepas itu turun sikit ke no. 10.. 15, 23, 21..kemudian minggu lepas di tangga ke 4, mengejutkan. Minggu ini, mak kami sangat gembira, tidak kisah berapa lama mungkin lagu You & Me akan bertahan di tempat pertama, yang pastinya Tahniah untuk Guba! kami tumpang bangga! Tahniah juga untuk lagu duet bersama Yuna yang tercatat sebagai salah satu daripada 14 lagu terbaik buatan Malaysia kelmarin! Tahniah, alhamdulilah.


XFM CARTA MALAYSIAN TOP 40 
Ketika saya sedang mencatat baris terakhir catatan ini, lagu Guba & Yuna baru saja dimainkan stesyen radio ini, terima kasih XFM.

You & Me, Guba




pa'al :D
kk 

Isnin

Bosan.

Saya telah deactivated account Facebook. Setiap hari saya membaca status update yang bermacam ragam diberitahu melalui telefon. Mungkin ini yang membosankan, saya pun tidak tahu.

Suatu hari, jika saya sudah bosan menjadi bosan mungkin saya akan aktifkan kembali FB saya. Namun, buat masa ini, fokus adalah karya yang terbengkalai. FB bukanlah satu-satunya medan berkomunikasi dan buat masa ini ia lebih melalaikan dan saya selalu terlalai olehnya.(haha...ha, bukan salah sesiapapun)

Yang penting, waktu ini, selamatlah mata daripada sakit mata melihat keaktifan FB teman-teman yang saya pernah dan tidak pernah 'ketemu', terutamanya posting gambar-gambar wajah sendiri dari berbagai-bagai 'sudut' yang diambil dengan sebelah tangan bersama bulu mata palsu, senyuman manja, rambut mengurai, dada terburai (haha...ha), status kedudukan diri terkini (ke tandas, akan ke bilik tidur, akan ke dapur, setelah menonton filem, betapa seronoknya menonton bersama si cintanya), status atau segala macam bentuk ceramah-ceramah yang tidak henti-henti menyuruh saya menjadi baik dan sebagainya! Phewwww.

Sekurang-kurangnya sekarang ini, rehat sekejap.

Daaaaa...
pa'al
27022012

Rabu

Proses Kreatif.

Saya teringat sebuah randau Sastera yang saya hadiri lama dulu. Berbuih-buih mulut para panel membicarakan tentang proses kreatif. Apa dia proses kreatif buat anda?

Menurut DBP, proses kreatif  adalah proses merekayasa dengan menggunakan segala kebolehan mencipta anda, menghasilkan dan mengembang idea-idea baru dan paling penting asli, bukan cedokan daripada mana-mana bahan, ilham, karya atau apa juga, sebelumnya.

Muzik sememangnya sebahagian daripada diri saya, selain menulis dan menjadi manusia biasa. Video muzik di bawah rasanya cukup lengkap menunjukkan hasil sebuah proses kreatif yang boleh menginspirasikan, tergantung kepada bagaimana anda 'melihatnya' atau mendengarnya. Apa-apapun, berbalik kepada citarasa masing-masing, bukan?


:)

Pa'al.

Selasa

Berkarya di dalam blog.

Hai, Anda sihat? Sejak akhir-akhir ini saya jarang menulis di sini. Ada banyak pelan yang perlu saya atur sepanjang tahun ini terutamanya di dalam bidang penulisan. Saya bukan penulis sepenuh masa, jadi waktu untuk menulis sangat terhad. Maksud saya, sangat terhad. Jadual saya padat setiap hari walaupun saya bukan artis (in your dreams pa'al). Tidak berminat walau sepicing angin pun saya ingin menjadi artis sebab memang tidak ada 'potongan' pun. Haha.


Tahun ini banyak membuka peluang untuk saya dan kawan-kawan berkarya. Bukan sayembara yang jadi buruan, tapi saya mahu menyiapkan semua novel-novel saya yang tergendala sejak dua tahun lalu dalam masa yang ditetapkan supaya sempat bertemu mana-mana penerbit yang berminat dengan tulisan saya. Sehari empat lembar, kalau tidak si pemalas ini tidak akan menulis apa-apa.

Di blog ini saya akan cuba memaparkan mana-mana karya yang sudah terbit, atau mana-mana  idea segar yang belum diedit sahaja. Selamat menyokong dan teruslah menyokong karya-karya penulis tempatan. 

pa'al
kk, 21022012

Doa untuk adik kecik.

Akhirnya dia berduet dengan Yuna, dulu lagu ini cuma dinyanyikan di dalam bilik tidur dia dan kamar mandi kami saja, kenangan.. hehe. Apapun, doa yang terbaik buat adik kami, Guba. Kalau bapa kami masih ada, dia tentu bangga. Ya.

Jumaat

Sinikal.

Bakat kurniaan Tuhan yang dapat memadamkan segala getusan sinikal sesiapa saja. Suaranya seindah seluruh nyanyiannya. Siapa tidak terharu melihat dia?

A Thousand Years

( Saya tidak pernah menonton cerita popular pontianak pucat yang sangat romantik itu, tapi saya sangat sangat suka lagu ini. Saya tujukan lagu ini buat kamu )



Heartbeats fast
Colors and promises
How to be brave
How can I love when I’m afraid to fall
But watching you stand alone
All of my doubt suddenly goes away somehow
One step closer

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I love you for a thousand more

Time stands still
Beauty in all she is
I will be brave
I will not let anything take away
What’s standing in front of me
Every breath
Every hour has come to this
One step closer

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I love you for a thousand more

And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I love you for a thousand more

One step closer
One step closer

I have died everyday waiting for you
Darling don’t be afraid I have loved you
For a thousand years
I love you for a thousand more

And all along I believed I would find you
Time has brought your heart to me
I have loved you for a thousand years
I love you for a thousand more


( Christina Perri)

Khamis

Bulan Pisang ( Banana Moon)













Di hadapan pagi
di halaman kota ilmu
dua anak-anak itu
berpegangan tangan
berlari girang meniti
limpah larik cahaya bulan
yang masih lekat atas
hujung rumput-rumput
berselimut embun dingin

Di bawah bulan sabit
yang menyala kuning
mereka berhenti
mendongak langit,
kata mereka,
bulan pisang
adalah bulan yang manis
adalah bulan yang masih lena
lalu mereka berlari semula
ke hadapan pagi
di halaman ilmu
yang masih gelita
damai disuluhi cahaya
bulan pisang


pa'al, kk
di bawah lembayung bulan pisang
19012012
(untuk sasterawan-sasterawan kecilku)

Selasa

Menjahit ozon, anjing merah jambu dan seorang peminum kopi panas di waktu panas.

Bumi semakin panas. Kalau mahu menjadi kerepek goreng, silakan  berdiri di tengah jalan raya yang meruap, yang menyilaukan, yang menelan segala kelembapan dunia dengan berfatamorgana dan perlahan-lahan naik ke langit dan menuju entah ke mana itu. Tolak campur usia anda, agak-agak sepuluh bulan masa anda sepatutnya masih muda akan segera dapat disejat lantai bumi yang kering membara.

Entah kita yang sudah dewasa ini sedar atau tidak bahawa dunia kini semakin tidak selamat dihuni oleh manusia-manusia (cucu-cicit ..generasi kita) akan datang?

Mengapa pasar-pasar raya terkial-kial menyuruh kita membayar beberapa sen untuk harga sebuah beg plastik yang tidak mesra alam demi menggalakkan kita membeli beg beli belah yang lebar, yang kadang-kadang membuat kita kelihatan sepuluh bulan tiga hari lebih tua daripada usia sebenar.

Mengapa pula kita enggan membeli beg kitar semula itu? Mungkin kerana nilai dua puluh sen itu membuat kita rasa dianiaya hidup-hidup di zaman ini. Mungkin juga, kita memang manusia yang tidak suka kepada perubahan. Kajian beberapa pakar motivasi, ketika mengarahkan beberapa kumpulan orang dewasa melukis 'pemandangan di kampung saya'; hasilnya; ramai orang dewasa (tanpa mengira asal, bangsa, dibuat selang beberapa abad setiap kumpulan-diringkaskan begitu) hampir kesemuanya melukis objek gunung-gunung dan matahari yang muncul dari celah gunung. Salah satu indikator yang menunjukkan bahawa, manusia amat sukar berubah.

Walaupun ada juga beg guna / kitar semula yang kini agak 'fancy', ramai yg masih sanggup menggunakan beg plastik yang nantinya akan dibuang ke dalam tong sampah juga kelak. Apapun, bila agaknya kita akan menggunakan beg kertas bermutu tinggi dan mesra alam sebagai ganti kepada beg-beg plastik yang cuma boleh dibeli dengan harga dua puluh sen itu? 

Apapun, saya teringat sebuah cerita kartun di tv yang semacam berkaitan isu alam sekitar,  walaupun secara tidak langsung tapi rasanya ia mencuit hati. Ia adalah cerita seekor anjing yang berwarna merah jambu. Mungkin anda juga pernah menonton cerita tentang anjing ini yang  telah menyelamatkan dunia dengan menjahit lapisan ozon dengan jarum dan segulung benang baju panas. 

Anjing itu milik sepasang warga tua yang telah ditawan oleh 'snowman' dunia terakhir yang sakti tetapi murung dan penuh kekecewaan. Oleh kerana tempat tinggalnya di North Pole telah dicairkan secara tidak sengaja oleh 'pemanasan global' yang antaranya disebabkan lapisan ozon yang telah koyak, si patung salji tersebut telah membalas dendam kepada manusia dengan menukarkan sebuah gurun yang lebih panas daripada ketuhar sehingga menjadi sebuah lembah ais yang luas dan manusia-manusia yang melawan katanya akan disumpah menjadi beku, termasuk kedua tuan si anjing.

Setelah berjaya meloloskan diri dari kejahatan si snowman yang kejam, si anjing menggunakan seluar panjang tuannya yang dilarikannya sebagai payung terjun dan dengan bantuan sebuah kapal terbang yang juga berwarna merah jambu. Si anjing telah mengapung di langit di mana terdapat koyakan ozon yang menakutkan itu, kemudian  dia segera menjahit lapisan tersebut dengan jahitan yang sangat kemas dan ketat. 

Akhirnya, awan-awan di kutub utara kembali menggugurkan hujan salji dan sungai-sungai serta lautan yang baru sebentar bersuka ria berhempas-hempas ke tebing segera membeku semula dan semuanya menjadi seperti sediakalanya, termasuklah kawan-kawan patung-patung ais lain si jahat snowman itu. Si snowman kemudian kembali ke kutub utara dan mengembalikan dunia yang diganggunya kepada yang asal. Si anjing yang berjasa itu, menyalak manja tuannya yang kini cuma berseluar katuk corak bulat-bulat, si tuannya yang sememangnya perengus itu mengetuk kepala si anjing merah jambu lalu cerita diakhiri dengan si anjing girang  membuat aksi yang ditunggu-tunggu penonton setianya iaitu mengekek kepada mereka.

Realitinya, kita tidak memiliki anjing merah jambu untuk menyelamatkan dunia. Superhero-superhero yang diwujudkan sejak zaman kita masih kanak-kanak sekadar memberi inspirasi buat kita agar melakukan kebaikan, tidak kira di manapun atau untuk siapa, bukan? Lalu, apa yang perlu kita buat di kala dunia kita menjadi semakin panas? Sebagai manusia biasa, apa yang seharusnya kita lakukan adalah mendekati alam sekitar, di manapun kita berada dengan menyokong apa-apa juga usaha mana-mana pihak yang bertujuan untuk memelihara atau memulihara alam sekitar. Skema betul kenyataan ini, bukan? Namun saya mempercayainya.

Bukan pejuang alam sekitar, bukan juga ahli pencinta alam, saya cuma Pena Alam, seorang yang biasa-biasa namun sayangkan kehijauan dan kedamaian, serta segala usaha dan tindakan yang mampu 'menjahit kembali lapisan ozon' dengan 'jarum dan benang baju panas' seperti si anjing merah jambu itu. Kata kawan saya, manusia yang hebat adalah manusia yang senantiasa menginspirasikan alam di dalam karya dan kehidupannya, memuja alam, sama adanya seperti kita memuja dan memuliakan penciptanya. Saya juga percaya kata-kata itu.

Percaya atau tidak, kita akan lebih bersahabat dengan panas alam dengan meneguk kopi panas yang sedang-sedang manisnya. Itu kata saya. Mungkin anda bukan peminum kopi. Apapun juga, Andrea Hirata menulis novelnya Cinta Di Dalam Gelas, menulis buku besar tentang peminum kopi, mengisahkan betapa kopi panas atau sebaliknya mempunyai hubungkaitnya dengan jiwa, cinta, tingkahlaku manusia serta beberapa jenis-jenis sakit gila yang dikarangnya mengikut urutan nombor. Saya sukakan buku itu dan penulisnya yang gila-gila, ada banyak unsur-unsur kecintaan kepada kemanusiaan dan alam sekitar, tentunya, di dalam kesemua karya si Keriting itu.

Catatan ini sampai di sini saja untuk kali ini dan akan bersambung nanti, insyaalah. Sementara itu, cintailah dan sayangilah alam sekitar anda, dimana juga anda kini.



Wasalam,

Pa'al
kk, 10012012

Cerita gadis kecil, sepohon kayu dan pukul sembilan pagi















Seorang gadis kecil
matanya sepet,
bertocang dua,
giginya baru hilang dua
dia manis, segirang matahari
semanis awan tengahari

Setiap hari, dia menarik tangan
membawaku ke bawah redup pokok kayu
Berjumpa seorang makcik bertudung
membeli dua bungkus mi goreng
untuk dia, juga neneknya
juga dua leher ayam goreng
untuk dia, juga adik lelakinya
bersama air oren, pisang goreng
untuk dia, adik lelaki, juga neneknya
Semuanya, untuk dia, adik lelaki, neneknya
yang dia panggil 'kami'

Seorang gadis kecil, hari ini menjadi besar
bertukar jubah, kini di sekolah baharu
katanya; dia merindukan pokok kayu itu
yang masih lebih tinggi daripada dirinya
kerana dia bukan lagi pelajar kecil
bertocang dua, yang hilang dua gigi
dengan senyum semanis matahari
dari tadika kenang-kenangan itu

Hari ini, dia menjadi besar lalu
mengenal erti sebak, merindu kenangan
di bilik darjah baru itu, dia menarik tanganku
ketika aku juga sebak, meninggalkan dia
di bangku bilik darjahnya, aku berhenti;
katanya;

Mak, pukul sembilan nanti,
adakah mak akan menungguku di bawah pokok kita?
Kujawab, lalu kulihat, ada air digenang kolam matanya

Sebelum kilas wajahnya,
hilang di balik jendela bilik darjah terakhir
akupun diburu anggukan mengertinya,
sayu mata, juga lambai tangannya dalam muram wajah
pagi mengorak detiknya laju, kami ditusuk sebak
hari mengorak detiknya pantas,
gadis kecilku, kini hilang, dilarikan masa
semakin dewasa, aku semakin tua

Tanpa tangisan, dia melambaiku pergi
kerana mungkin dia mengerti,
aku tidak akan dapat menunggunya lagi
seperti selalu, pada pukul sembilan pagi,
di bawah redup pokok kayu kami
Tetapi aku akan selalu menunggunya
sehingga sepanjang-panjang hayatnya
di mana-mana juga bila-bilapun!

Dia, simanisku, semakin kukenali
rupanya dia, lebih tabah daripada
apa yang pernah siapapun bayangkan.


Pa'al
(buat Trudy, sastrawan kecilku)
kk, 09012012 ; 1704

Catatan hujung tahun : Marathon di tahun 2012!

Salam!

"Home, is where the heart is?"...  bagi saya: Home, is where my mum is. Kenapa? Anda kena teruskan membaca tulisan di bawah ini.

Hai, lama sudah saya tidak menulis di teratak Pa'al ni. Sebelum menutup lembaran 2011, saya teringat kisah semalam. Semalam yang dimaksudkan adalah benar-benar kisah semalam, bukan metafora bagi kisah-kisah sebelum hari ini. Hehe. Semalam maksudnya, 29 Disember, 2011.

Ok, Semalam, buat pertama kali saya sekeluarga menyaksikan aksi julung kali adik lelaki bongsu saya membuat persembahan di atas pentas kecil, di dalam sebuah majlis santai bernama #TwtUpKK (More than just a tweet), lokasinya adalah di sebuah tempat bernama Party Play, Lintas Plaza, Kota Kinabalu.

Sesampainya kami di sana, saya dapati rupa-rupanya acara tersebut adalah 'gathering' untuk tweeter-tweeter seantero Kota Kinabalu (Guba dipanggil untuk menyanyikan beberapa buah lagu), patutlah pengujungnya agak ramai daripada kalangan remaja dewasa dan sudah tentunya sudah ada pekerjaan (kalau bukan penganggur berduit) dan rata-rata memiliki 'smart phone' untuk 'tweeting' dan sebagainya(lah).

Guba sedang nyanyi nih..
Sementara menunggu-nunggu Guba membuat persembahan, saya mengisi pinggan mak dengan ceaser salad (itu saja menu yg ada, yang lain mak tak makan) dan saya ambik sedikit pizza dan makaroni keju dan kemudian kami (termasuk abang dan kakak) makan sambil berbual, sambil dihiburkan dengan nyanyian dua orang lelaki yang nada suaranya hanya mencapai kod tidak sumbang tatkala lagu yang dinyanyikan mencapai titik korus. Saya memaafkan anak muda itu kerana saya tahu, lebih cepat penyanyi-penyanyi itu berganti menyanyi, maka giliran adik saya akan sampai tanpa disedari.

ehsan: www.ahbing.com
Nasib baik kami dilahirkan dalam masyarakat yang sangat-sangat majmuk dan begitu fleksibel dengan apa juga. Untuk ini, saya tabik spring mak kami yang cukup sporting. Sporting kerana, ruangan 'Guba Reserved' yang terlalu malap, bunyi muzik yang berdentam-dentum serta kesemua pitcher dan cawan kacanya terlukis harimau belang walaupun isinya adalah air limau ais.

Meja khas kami
Respek juga untuk yang duduk di sekeliling meja kami, kerana mengawal diri daripada terkial-kial menari mengikut rentak muzik, mungkin kerana melihat ibu Guba ada duduk di sana bersama 'pengawal-pengawalnya' (kami) yang kelihatan seperti geng motor (sebabnya kena tengok gambar kami) Hahahaha. Rasanya kalau mak kami fussy, belum sampai lima minit berada di sana, kami akan beredar kerana majlis itu agak bingit. Tabik untuk ibu-ibu kita yang sangat memahami (Tiba-tiba saya melihat diri saya di dalam mak!) dan memikirkan apakah maksudnya deja-vu itu.

Guba & mom selepas show..nangis lagi. hehe
Mak dan kakak saya dirundung emosi ketika Guba mula memetik gitarnya dan menyanyikan 'Alright'. Menitis-nitis airmata mereka, tatkala nyanyian Guba di sambung dengan lagu baru bertajuk 'Hilang', kemudian 'Sunday Morning' dan akhirnya lagu yang masih menduduki carta pertama di Hitzkk (Hitz.fm) yang bertajuk 'You & Me'. Saya memandang sekeliling, penontonnya bersorak-sorak, gadis-gadis memandang dengan pandangan 'tajam', macam-macam, lalu saya terfikir, apa agaknya yang adik saya mahukan dengan menyanyi, agaknya? 

Ehsan: Laguna Music
Kalau arwah bapa masih ada, tentu dia akan berada di sini walaupun sedang sakit, kerana saya tahu, bapa akan menyokong usaha anak-anaknya asalkan mereka jujur dengan minat mereka, tidak mengabaikan pelajaran dan paling penting ingat orang tuanya, tentunya bapa akan menarik nafas bangga seperti mak, seperti kami semua. Saya masih ingat, bagaimana si Guba ini pernah menolak apabila kami olok-olok memintanya menyertai sebuah program realiti TV lama dulu, dia juga pernah menolak sebuah program realiti yang pada mulanya disertainya kerana program itu berkaitan dengan 'composing' sesebuah lagu. Setelah menjadi peserta top 10 dia menolak kerana satu sebab: Susunan program dan undang-undang program yang bercanggah dengan pendiriannya: Walaupun penganjur menyindirnya : Awak sudah begitu baguskah? Dia menjawab; Tidak, tapi saya percaya saya boleh buat lebih baik daripada apa yang kamu fikirkan, bukan dengan cara ini". 

Respek diri, hargai diri!
Saya tahu, apa yang membuatkan jejaka tinggi lampai bernama Guba itu duduk melalak di atas pentas adalah kerana minatnya yang mendalam di dalam bidang muzik, bukan sekadar nyanyian, tetapi dia menghargai muzik dan rasa gembira, mendapat kepuasan apabila mereka (penonton) dapat dihiburkan dengan muziknya. Dia mahu diterima kerana bakatnya dan ingin membuat sesuatu yang disukainya. Dahulu, dia menyanyi berkurung di dalam bilik, di dalam bilik air. Rupa-rupanya lagu-lagu itulah yang saya dengar melalui radio sekarang. Yang pastinya, lagu-lagunya sudah mula mendapat tempat di arus perdana, menapak demi menapak, akhirnya dia akan mencapai impiannya, jadi yang terbaik untuk Guba. Ingatlah mak kita, kerana Home is where our Mom is. Why, because she is all we have. 

Tahun 2011 banyak menyedarkan saya betapa pendeknya hayat seorang manusia. Tahun ini sahaja, satu persatu ahli keluarga terdekat pergi meninggalkan kami selama-lamanya, ke negeri akhirat. Saya percaya, hanya cinta sejati sahaja akan membawa seseorang itu sehingga mengikut pasangan dikasihinya sampai ke liang lahad. Itu kata-kata di dalam tayangan gambar yang sebenarnya berasas, kerana mendiang datuk dan nenek kami yang pergi selamanya dengan cuma berselang kurang 40 hari. Diikuti dengan seorang anaknya kemudian.  Tahun ini juga, Trudy kehilangan dua batang gigi kacipnya. Neneknya mengajar supaya menimbus gigi tersebut di dalam tanah pasu bunga, menanam dengan tanaman herba, caranya mengajar anak kecil supaya menyayangi dan mengabdikan diri pada alam sekitar. Bukan meletakkannya di bawah bantal untuk menunggu hadiah dari pari-pari gigi di kala pagi. Lelem pula semakin budiman dengan tuturkata seperti : Mak, sudah makan? Mak, saya rindu mak; atau mak, tidurlah. Mak, saya mahu bercakap dengan bebeh (nenek). etcetera-etcetera. Kesemua yang kami buat adalah dilingkungi kasih-sayang mak. Seperti yang saya katakan tadi : Home, is where my mom is.

Tahun hadapan, 2012 yang berbaki sehari lagi ini menyediakan kemungkinan yang sukar diduga, tentunya banyak kejutan dan kegembiraan serta cabaran-cabaran yang bakal kita hadapi kelak. 2011 akan kita tinggalkan dengan segala macam kenangannya, yang pastinya segala cabaran mendatang pada tahun 2011  sudahpun berjaya kita lepasi, bukan?! Kalau belum, lihat saja di mana anda sekarang? Di penghujung tahun 2011. Buktinya kita semua boleh, walau apapun dugaannya.  Buat rakan-rakan penulis, teruskan menulis dan menghasilkan karya-karya terbaik sebagai pencapaian untuk diri sendiri. Memecut di litar pertandingan ada baiknya untuk mendapat nama dan sebagainya, namun yang paling penting adalah membuktikan diri dengan karya terbaik. Mengejar nama tidak sama dengan memburu impian. Saya akan bermarathon di tahun 2012, bukan memecut barangkali, kerana marathon akan membuat saya sempat berfikir tanpa perlu berhenti, tidak membuang masa dan hasilnya 'kesihatan' walaupun bukan kejayaan besar. namun, berkat bersabar, siapa tahu kejayaan akan muncul sebagai pemangkin semangat. Apa-apapun akhirnya, saya telah menemui sesuatu yang sangat menggembirakan di penghujung tahun ini, iaitu ; sebab untuk terus hidup.

Saya ingin mengucapkan Selamat tahun baru 2012 buat semua sahabat Pa'al dan semua pengunjung Teratak Pa'al, teruskan hidup sihat berkualiti! Jaga diri dan semoga persahabatan kita kekal selamanya.

..Home is where my mom is.

Wasalam,

Pa'al
kk

Rabu

1 Syawal .. dan 31 Ogos, 2011, Merdeka Raya !













Asalamualaikum dan salam sejahtera,

Selamat Hari Raya Aidilfitri, Maaf Zahir dan Batin juga Selamat menyambut Hari Kemerdekaan Malaysia ke 54, daripada saya untuk semua sahabat-sahabat Pena Alam di mana juga anda berada :)

Salam Merdeka Raya, salam tersayang!

Ikhlas,
Pa'al

Isnin

Cinta yang kupungut dari bulan III













Rembulan
menaburkan cahaya kuningnya
menyusur lorong-denai malam
merapi hembus angin bergulung
gegar rerumput diurapi kabus malam

Kosong dari hampar mataku
bertatih teguh menelusuri cerita malam
entah apa yg menuntun langkah ini
jadi serancak degup deru anginan
ketika kusam dadaku meruntun sebak
Engkau menurunkan setitik resah manis
jatuh dibibir memerahkan senyumku
sebuah rasa yang kupungut dari bulan


Pa'al
kk, 290811

Sabtu

Pa'al dan Gunung Kinabalu..Ekspedisi 1-2hb Ogos, 2011

Acara memasang besi-besi dan kain untuk menaikkan logo 

Bergambar beramai-ramai setelah menjulang Jalur Gemilang 9mx4m

Kali pertama memijakkan kaki ke Gunung Kinabalu adalah pada bulan September 1998. Selepas itu, saya tidak pernah lagi memikirkan untuk mendaki gunung Kinabalu kerana rasanya sudah lepas syarat menjadi orang Sabah. Bukankah gunung tertinggi di Asia Tenggara itu letaknya di dalam negeri kita, jadi rasanya syarat halimunan itu harus dicapai oleh semua rakyat Sabah, bukan saya yang tetapkan ..tapi alangkah ruginya jikalau kita tidak bersama-sama warga dunia yang berpusu-pusu ingin menakluk puncak tertinggi itu. Mereka datang dari segenap pelusuk dunia semata-mata ingin mendaki Gunung Kinabalu, sedangkan kita sekadar berbangga dan mengatakan 'ya, gunung Kinabalu memang ada di negeri saya~Sabah', dan jawapan anda seterusnya tentu membuat anda befikir sendiri 'Ya, saya sebenarnya belum pernah mendaki gunung Kinabalu lagi'. Itu untuk konteks orang-orang Sabah, bagaimana pula teman-teman senegara kita di Semenanjung. Ok, mari kita tetapkan ~ sebagai rakyat Malaysia, cukup syarat jika anda sudah mendaki gunung Kinabalu sampai ke Puncak Low's.

Bacaan doa sebelum memulakan perjalanan ke Taman Negara, Ranau
Apalah yang menarik sangat mendaki Gunung Kinabalu itu ya? Bagi saya, bukan apa yang menarik tetapi  anda perlu menjawab soalan ini ~ pernahkah anda menguji sejauh mana kemampuan fizikal & mental anda ke tahap paling maksimum, maksudnya MAKSIMUM. Tidak keterlaluan untuk saya katakan bahawa untuk mengetahui sejauh mana kecekalan, jati diri anda sebagai seorang manusia, buatlah aktiviti-aktiviti yang mampu memcabar fizikal, mental, rohani dan spiritual anda, untuk itu dakilah gunung, walau di manapun gunung-gunung itu.

Gunung-gunung yang wujud di alam semesta ini semuanya adalah ciptaan yang Maha Kuasa Allah SWT, Dia menciptakan segala sesuatu itu dengan bersebab, bukan? Tatkala mendaki dan berjaya sampai ke puncak Kinabalu dalam pendakian terbaru saya iaitu pada 1-2hb Ogos, 2011 yang lalu, saya mengalami satu fenomena yang tidak pernah saya lalui pada pendakian pertama dahulu, iaitu fenomena yang saya panggil 'detik 5 saat', yakni 5 saat kudus yang berlaku ke atas saya sebaik sahaja memegang plat puncak Low's Gunting Langadan 4095.5M pada jam 5.30 pagi. Detik antara saya dan negara arca di balik awan milik pencipta alam semesta yang sungguh menyentuh hati saya sebagai manusia yang tidak sesekali pun akan sempurna disisiNya ...Subhanaalah.

Pelepasan peserta ke Timpohon Gate dan seterusnya mendaki sehingga ke Laban rata

Bergambar di KM 3 ke KM4 bersama teman2 pendaki dan Guide berbaju putih 

Sedar tak sedar airmata saya menitik ketika memegang plat itu, terharu, kesyukuran dan berbagai-bagai lagi perasaan yang bercampur baur ketika puncak Low's mula diterangi lampu-lampu suluh yang menyilaukan mata dan para pendaki yang terdiri daripada teman-teman yang sama-sama di dalam program mendaki ini juga peserta-peserta pendaki yang datang secara sendirian, pelancong dan dalam kumpulan kecil. Detiik semua orang berpusu-pusu ingin mengambil gambar secara giliran, kedengaran suara-suara urusetia dari ATM dengan lantang mengarahkan kami segera mengambil tempat untuk memasang besi-besi bagi mendirikan Jalur Gemilang. Saya yang baru saja sampai di atas puncak itu seakan tiba-tiba menjadi entiti yang asing apabila semua suara terasa hilang, semua insan-insan di sekeliling bergerak dan berkata-kata dalam gerak perlahan.

Sebuah perasaan yang tercipta ekoran daripada letusan kepuasan diri yang bukan alang-kepalang, mungkin itu cukup menggambarkan perasaan saya, saya juga kurang pasti. Yang pastinya detik 5 saat itu mencacah rasa unggul ini ke dalam jiwa saya iaitu satu perasaan yang paling nyata saya rasakan ~ merasa Kecil. Betapa sekecil-kecilnya kita di sebalik kejadian-kejadian ciptaan Allah... inilah kebesaranNya. Saya yang senantiasa merasa kerdil, kecil sebagai mahklukNya selama ini, merasakan diri saya terlalu, ahh terlalu sekali, lebih kecil, sekecil-kecilnya tatkala memijak puncak Kinabalu. Syukur Alhamdulilah. Seusai detik 5 saat itu, saya buang perasaan semacam melankolik yang tiba-tiba menguasai diri itu dan saya bangkit menyertai teman-teman yang sedang menyambungkan besi tapak demi tapak bagi menjulang logo itu ke langit, mengipas awan, menyisir angin! Kemudian dengan suara Puisi merdeka kami akan  meneriakkan puisi indah merdeka ke langit, mencabar badai berkelahi dengan kasih sayang dan persahabatan! Kami tahu, sekecil manapun bantuan di dalam perjuangan ini akan membantu kami bergerak setapak demi setapak bagi menjayakan misi ini.

Pada mulanya terbetik juga di hati yang mana saya tidak menjangka akan sampai ke puncak, kerana saya diserang altitude sickness yang agak teruk. Namun saya tidak ingin mematahkan semangat sendiri kerana kami akan memulakan pendakian ke puncak Low's subuh-subuh nanti, lebih kurang jam 2 pagi, selepas bersahur, maknanya sempat lagi berehat dan tidur. Semasa mendaki dari Timpohon Gate (pelepasan pendaki) sehingga ke Laban Rata, sebuah tempat penginapan berbumbung kuning berlatarkan batu-batu gunung dan puncak tertinggi gunung Kinabalu itu, keletihan yang sukar digambarkan merasuk fizikal dan mental. Pada jam 8 malam kami semua masuk tidur dan saya tidak dapat melelapkan mata kerana sukar bernafas dan pening kepala. Altitude sickness dan oksigen nipis di atas gunung, memang perkara biasa. Seorang teman pendaki menghulurkan Panadol Actifast dan setelah saya telan 2 biji panadol tersebut, kesakitan kepala pun lega. Itulah panadol pertama yang saya ambil untuk tahun 2011, kerana saya memang tidak suka makan ubat. Tidak sangka pula ia sangat mujarab. Haha. Berganti pula dengan kembung perut yang menyebabkan saya berulang alik ke tandas. Airnya sejuk seperti ais cair!

Bergambar sebelum acara pelepasan 80 pendaki
Pemandangan indah ketika menghampiri Laban Rata

Pemandangan indah ini mengubat keletihan!
Bunga-bunga gunung

Pendakian kali ini merupakan yang paling manis kerana setelah sekian lama tidak mendaki, kali ini saya berpeluang mendaki bersama 79 orang pendaki yang terdiri daripada peserta pendaki lelaki dan wanita ( 8 orang sahaja) sempena sambutan bulan kemerdekaan Malaysia. Kami semua adalah mewakili jabatan-jabatan kerajaan seperti Polis Diraja Msia, Angkatan Tentera Msia (71 Woksyop) Kem Lok Kawi, Regimen Askar Melayu Diraja, Tentera Laut Diraja Msia, Jabatan Imegresen Msia, Jabatan Pertahanan Awan Msia, Agensi Penguatkuasa Maritim Msia, Jabatan Bomba & Penyelamat Msia, RELA, Askar Wataniah, Dewan Bandaraya Kota Kinabalu, Radio Televisyen Msia (RTM) Kota Kinabalu dan last but not least saya sebagai Penulis dari Dewan Bahasa dan Pustaka Cawangan Kota Kinabalu. Kami semua berjumlah 80 orang dan telah melalui 10 hari latihan intensif di Kem Lok Kawi, Kota Kinabalu. Latihan yang mantap & mencabar!

Plat menunjukkan ketinggian puncak Low's  bersebelahan plat Gunting Langadan

Bergambar bersama salah seorang teman pendaki dari ATM, Abang Ismail

Masa untuk turun dari Low's Peak ke Laban Rata

Pendakian seramai 80 orang ini adalah dalam misi mengibarkan dan menjulang Logo Jalur Gemilang di puncak Kinabalu. Bukan cuma logo atau bendera, tapi logo atau bendera yang berukuran 9 meter x 4 meter dan seberat 191.5 kg di atas puncak Kinabalu! Bukan itu saja, kami akan membaca puisi merdeka bertajuk 'Keranamu Malaysia' karangan Pak Ahmad Sarju di atas puncak Kinabalu. Kedua-dua kategori ini adalah dalam misi untuk mencatat rekod baru di dalam Malaysia Book of Records! Sungguh menginspirasikan ya. Rasanya bukan untuk menunjuk-nunjuk, sebaliknya untuk membuktikan bahawa perpaduan kaum di negara kita bukan mustahil. Kami yang mendaki adalah terdiri daripada berbagai-bagai bangsa yang tinggal di negeri Sabah, termasuk mereka yang berbangsa Melayu dari semenanjung. Kesemuanya bekerjasama dan menjalin persahabatan akrab dan saling membantu baik semasa latihan intensif, juga semasa hari kejadian. Paling manis juga kerana pendakian ini dibuat pada permulaan bulan mulia, Ramadan. Berpuasa sambil mendaki gunung, membuktikan tidak ada yang mustahil kerana berpuasa bukanlah alasan untuk kita bermalas-malasan, tidur dan menunggu waktu berbuka sahaja. Syabas untuk semua pendaki! Nothing is impposible for the person who have faith in it.

Latihan intensif termasuklah latihan kecergasan pagi dan petang, seperti lari 2.4km membawa beg berisi besi-besi yang digunakan untuk dicantumkan menjadi logo Jalur Gemilang, tekan tubi, bangun tubi, berjalan merentas bukit, latihan memasang besi-besi menjadikannya 9m tinggi dan 4 meter lebar di atas tempat berpijak tidak rata dan curam dilakukan berulang-kali. Semua kepenatan, namun tidak ada sesiapa menyerah kalah, sehinggalah kami dilepaskan untuk mula mendaki pada 1hb Ogos yang lalu. Kesudahannya, kami berjaya! Pendakian dan dua misi kami mencapai kejayaan, lalu kami semuanya pulang dengan 3 sijil. Sijil dari Taman-Taman Sabah khas untuk mana-mana pendaki yang berjaya sampai ke Low's Peak dan yang paling manis adalah 2 sijil lain yang menandakan terciptanya 2 rekod baru di dalam Malaysia Book of Records.

Syukur Alhamdulilah!

Lihatlah segaknya logo Jalur Gemilang itu di atas puncak Kinabalu!


Inilah Kejayaan kami!

Kenangan.. mereka ingin bergambar dgn latar d belakang tu, ada dlm duit RM1 kita..hehehe
MBOR ! Taniah Geng Gunung..
Berita kejayaan kami di Akhbar Sabah Times

Berita kami di Utusan Borneo

Berita kami di Daily Express

Mendaki memerlukan semua kesediaan jiwa, raga, fikiran dan segalanya, jikalau salah satu daripada itu menghadapi masalah, secara automatik pendakian yang dilakukan terasa menyakitkan, menakutkan dan membahayakan dan kemungkinan bahaya kehilangan nyawa akan berlaku kerana kelalaian bakal berlaku dan sebagainya. Pendaki harus menjaga kesihatan sebelum mendaki, mungkin ada baiknya untuk mengurangkan berat badan sebelum mendaki bagi mengurangkan tekanan pada lutut dan kaki sewaktu turun nanti. 
Pendakian perlu dibekali pengetahuan, teknik-teknik mendaki, peralatan-peralatan mendaki yang penting dan juga latihan yang cukup untuk pendakian kerana impaknya amat ketara bagi mereka yang berlatih sebelum mendaki dan yang tidak berlatih, juga bagi yang kurang latihan. 


Pengalaman mendaki gunung setinggi atau serendah manapun, yang telah menguji fizikal dan mental rohaniah dan spiritual kita  perlu diaplikasi dalam kehidupan. Bagi saya sebagai penulis, rasanya saya ingin menulis seribu puisi dan cerita tentang Gunung Kinabalu, mungkin bukan seribu malah banyak sekali... insyaalah. Seandainya saat saya atau kamu jatuh rebah di dalam hidup selepas ini, fikirkan karektor seorang pendaki, maka tidak perlu kita mendaki gunung-gunung tertinggi kerana ketinggian itu letaknya pada saat kita menjadi diri sendiri, ugahari dalam diri, mengisi kehidupan ini dengan menjadi manusia yang lebih baik, setiap hari. Insyaalah semuanya akan menjadi lebih baik. Amin ya Rabbal Alamin.


Sekian Wasalam dari saya.

Pena Alam

Khamis

Kebenaran yang kita belajar daripada kanak-kanak



Suatu hari, di sebuah lokasi bandaraya Kota Kinabalu yang sedang rancak berdenyutan, seorang ibu dan anak perempuannya yang baru berumur 6 tahun masing-masing melayan perasaan sendiri di dalam kereta. destinasi, rumah selepas waktu kelas tadika si anak perempuan selesai.

Si ibu memegang stereng kereta sambil menyanyi kecil, menghibur hati yang sebel kerana keadaan trafik yang sibuk. Sesekali dia mengusik anak perempuannya yang kelihatan letih, sibuk bermain bunga raya berwarna merah saga. Beg sekolahnya bersandar di kerusi. si ibu memerhatikan si anak yang sibuk bercakap-cakap, menenangkan bunga raya merah saga itu supaya bersabar kerana cuaca panas. Bunga raya itu dipetiknya selepas mendapat kebenaran si ibu semasa dalam perjalanan menuju kereta. Bunga milik tadika, yang dahan dan pucuknya agak melunjur keluar di luar pagar tadikanya.

Di langit, matahari dan lasykarnya sedang sibuk memanah cahaya teriknya ke lantai bumi. busur panahnya ada yang kecil dan ada yang besar ada yang halus ..ada yang tajam. semuanya menghunjam ke bumi. Kebetulan si ibu memasang kulit di tangannya yang ditopangkan di atas bahu pintu kereta di bahagian dalam. Tiada pilihan kata si ibu, mahu menyarung tangannya dengan sarung tangan, panas juga. tidak bersarung pun tetap panas. jadi dia membiarkan kulitnya dicucuk-cucuk busur panah yang diluncurkan lasykar matahari dari langit biru. sakitnya tidak melukakan kulit namun ia sampai ke hati kerana kepanasan yang sering dihulurkan matahari tanpa apa-apa bayaran itu selalu menerbitkan kegusaran, kegelisahan dan ia juga merupakan agen pemangkin kemarahan, lebih-lebih lagi jika malang menimpa di tengah jalan raya nan sesak, di tengahari buta seperti itu.

Seusai berfikir seperti itu, tidak semena-mena, di sebelah kiri jalan, berhampiran lampu trafik yang masih merah, sebuah kereta mewah berhenti dan lampu isyarat kecemasannya menyala-nyala. Anak perempuannya   juga tertarik dengan panorama tuan kereta yang kesakitan dipanah matahari dengan busur besar-besar itu. Dia meletakkan bunga rayanya di kerusi dan menopang siku di tingkap kereta yang bertutup rapat, matanya merenung kereta mewah dan tuan kereta yang mula berjalan mundar-mandir sambil melekapkan telefon bimbit di telinganya. Mungkin kerana dia orang besar, jadi lasykar matahari memberinya sedikit tuah di tengahari itu. Entah, apakah yang rosak tentang kereta itu, fikir si ibu, bertanya sendiri.

Tiba-tiba, si anak perempuannya bercakap dengan lantang dan kuat, membuat si ibu tersentak. katanya;

"Circle is the correct answer for the boxes, mummy."

Ketika si ibu berfikir-fikir, apakah kaitannya kata-kata anak manisnya itu dengan kerosakan kereta orang besar itu. Lampu trafik menyuruh mereka beredar dengan warna hijaunya. Si ibu berfikir dan berfikir sambil mulutnya terkunci, si anak manisnya sudah berbaring memeluk patung zirafahnya yang dinamakan Meenum itu. Dia tertidur.

Setelah sekian lamanya, si ibu, akhirnya tersenyum. Mungkin ertinya begini saja, putusnya; circle atau bulatan itu adalah matahari dan boxes atau kotak / benda segiempat itu adalah kereta orang kaya yang rosak, yang kebetulan juga menyerupai sebuah kotak besar.

Falsafah kanak-kanak bagi kebenaran kekuatan kebesaran manusia kadang-kadang hanya datang dari maha pencipta yang menciptakan matahari, dan Tuan kereta besar kepada kereta mewah berbentuk kotak itu telah menerima dugaan daripada benda-benda bulat yang telah membuat orang besar itu sedar bahawa dirinya juga, sama seperti insan-insan lain, yang kerdil, seumpama sebiji bola kecil yang akan bergolek ke arah kesenangan mahupun kesusahan, atas ketentuan Allah SWT. Benda-benda bulat tersebut adalah.... matahari, roda keretanya yang pancit, kepalanya yang bulat tiada berambut, serta ..perutnya yang bulat besar dan lain-lain lagi.

Si ibu merenung anaknya yang sudah tidur berdengkur kecil bersama Meenumnya, dari cermin pandang belakangnya. Si ibu tersenyum.


Pa'al
Kota Kinabalu
21072011

sebuah kekecewaan


Sebiji cawan besar
kuisi cinta lemak manis
pahit berkepul asap
beradun panas air
isinya gula, kopi
buatan Tenom
seenak rasa
sebagus
nikmat

Oh!
merdeka
dirgahayu
Robusta
kampungku



Secicip kopi tertinggal
di dasar cawan besarku
kerana hasrat teguk kutunda
ia ditiup sejuk pendingin hawa
perlahan membisu jadi dingin
di atas meja kerja sepiku

aku tak henti memikirkanmu
wahai secicip kopi yang kutunda
untuk kuhirup hingga titis terakhir
enak, lembut, pahit, cintamu, rasamu
lalu, ketika kugenggam tangkai cawanku
mulut pun kubuka seluas-luas
bersama hati yang ingin puas

ketika itu,
hatiku jatuh di laut duka terluas
bersama teriakan kekecewaan
kerana kau kini jadi pusara danau
seekor semut gila yang membunuh diri
sesungguhnya aku, tidak mahu jadi pelupa
lalu kulupakan secicip kopi dingin itu
bersama sebuah derita kekecewaan
yang melukakan pagiku!

Ahhh, semut!
kau memang kejam

Pa'al
Pejabat, kk
21072011; 0936

Selasa

Setahun yang lalu

Malam ini langit hitam, sangat pekat. Beberapa malam sebelumnya, hitam malam dicairkan gelung-gelung bulan bulat kuning yang juga digelarkan 'tawang' di dalam bahasa Dusun. Tiba-tiba saya teringat cerpen 'Tawang' yang saya hantarkan ke meja Editor Dewan Sastera yang belum mendapat sebarang maklum balas setakat hari ini (hehe..). Saya masih menanti cerpen itu disiarkan di DS. Mungkin tahun depan..mungkin juga tak disiarkan langsung. Apa-apapun saya berazam menghantar hujan karya kepada para editor ini kerana salah satu impian saya adalah melihat karya cerpen atau puisi saya disiarkan di DS, Mingguan Malaysia dan Berita Harian. Tahun ini saya dan beberapa penulis rapat dengan saya berazam akan melihat karya kami menongkah arus perdana. Kenapa? Besar maknanya bila sudah mampu bersaing di arus perdana.  Kalau tahun ini belum dapat, tahun hadapan ada lagi.

Genap detik dua belas tengah malam, saya menyedari saya bukan lagi insan yang sama seperti kelmarin. Usia saya bertambah lagi bermula detik ini. Saya bukan berubah menjadi seorang lain, namun yang berubah adalah jiwa dan roh yang semakin dewasa. Saya adalah saya seperti yang kalian kenali. Setahun lalu saya berbeza, tahun ini adalah tahun harapan dan tahun-tahun mendatang, adalah doa yang terhampar buat saya dan kita semua.

Cinta dan Kasih yang tidak sesekalipun akan terpadam buat ibuku, arwah bapa.. "atas nama CINTA, terlahir aku melihat dunia!" (Flop Poppy)!


Salam dari dunia mistikal Pena Alam!

Pa'al
280677

Isnin

Sebuku ilham

Sebuku ilham
muncul di balik kotak lampu
kutandai ia dengan nota manis
kusyukuri ia dengan doa-doa
bahawa di mana pun seorang aku
lapar takkan pernah lagi menjengah
kerana sebuku ilham yang datang
dari kemurnian kota-kota langit
yang telah menghamili jiwaku
sehingga nanti kulahirkan ia
jadi zuriat-zuriat penaku
penuh cinta, penuh jiwa
dariku untukmu


Pena Alam
Tawau - Kota Kinabalu
06062011; 0153

Lautan itu kekasih bumi

Laut,
berkeping-keping kering
jadi kain biru polos kontang

lalu ia bingung
bagaimana caranya
menjadi lautan semula
sedang seluruh masinnya
serta air-airnya telah rajuk
bermain awan di atas langit

Ketika guruh berdentum
kilat menikam tegang benang-benangnya
jadi putus perlahan-lahan terbakar jadi abu
tinggal secebis kain laut tak bernama,tak dikenal

Akhirnya di kaki Tuhan
cebis dirinya dikasihani awan
dimohonkan air-airnya yang tak lupa
bahawa biru itu dahulu adalah juga lautan, air serta garam
yang ditakung belahan bumi sebagai hampar lautan
kekasih luhur sang bumi yang tak sepatutnya ingkar
lalu dipertemukanNya mereka kembali jadi nikmat dunia
sehingga lautan tak pernah lagi melupakan dirinya
yang pernah kering, kehilangan, sepi, tak dikenal


Pena Alam
Tawau
06062011; 0135

Mulut

Semakin kedua lembut bibir itu terbuka, terkatup
semakin elok paras hatinya terlihat di sinar mata
semakin manis butir tuturnya nan lembut sabar
semakin cinta mengebar menyelamatkan malam
dari pelukan sepi, penuh rindu, penuh cinta

lalu kutanya dia,
Andainya cinta itu diusai langit
ditakdir bukan untuk kau atau aku
kerana cinta itu anugerah yang kita pinjam
dari langit, dari hujan, dari matahari, dari sepi malam
adakah bibirmu masih akan manis menguntumku senyum?

Bibirnya bergelatukan menguntum jawapan
ketika cinta benar kukembalikan ke langit
kepada hujan, matahari juga sepi malam yang mengerti
antara sedih, pilu, suka serta duka nan mengilukan
kudengar bibirnya menikam menghiris kulit-kulitku
sesungguhnya dia telah membunuh mimpiku
pada hatinya yang sebersih tujuh lapis langit
kerana dia telah menjatuhkan hukuman
dari bibirnya yang membentuk
sebuah ukiran mulut


Pena Alam
Tawau-Kota Kinabalu
06062011; 0120

Eceran

Dia
peniaga cinta
cintanya eceran
katanya, sikit-sikit
kan jadi sebukit

Dia
menjual cintanya
juga cinta plastik
yang kekal bunganya
yang takkan mati
sampai bulan berkabung
meratap hilang warna

Dia
mengawal cinta
turun naik, naik turun
cinta harus disuap
ke mulut lelaki,
ke kaki lelaki,
ke hati lelaki,
sungguh dia
lelaki-lelaki
bukan lelaki

Dia
sesat di jalan
menunggu karma
menimbal balik
dosa-dosanya

Dia
sementara itu
menjadi kaya
kerana eceran cinta
yang dijual laku
jadi antologi kotor
dibeli di pasar dunia
dunia tak bermanusia
sebelum dia dilucut
kemanusiaannya
oleh kemanusiaan



Pena Alam
Tawau
06062011;0103

Rindu

Rindu itu
Bisa yang menjalar
mengaum-ngaum
menelusuri kapilari
bagai  gagah naga lunar

Ketika itu
kedua tangan ini terikat
di tebing kerusi besi ini
degup debar dada jadi kencang
sebelum pentobarbitar berlari laju
memecahkan benteng sungai darahku
bersama saudara-saudara koktelnya
ia meracuniku, menghumban jasadku
jatuh ke lantai simen tak beralas

Telah ia sampai ke jantung
maka terputuslah nyawa ini
disedut langit dikuburkan awan

Ketika rohku melayang
kulihat kau menangis

Sungguh-sungguh
aku merindukanmu
sampaiku mati


Pena Alam
Tawau
06062011; 1247

Sabtu

Aku cinta Pada mu











Cinta ini
takkan pernah terbendung lagi


Ketika senandung itu berkumandang
aku yang kecil bersujud menginsafi diri


Kasih, ditaburkan ke pelusuk hidupku
takkan pernah ada setulus cinta itu
di dalam sebanyak-banyak cinta
yang ditumpahkan dunia untukku


Aku sungguh kasih pada dia
aku sungguh mencintai dia
seluruh cinta-cintaku
adalah untukmu
Ya Allah


Pena Alam
Tawau, 
1607, 04062011

Selasa

Istimewa Semarak Pesta Kaamatan : Asal-usul kebudayaan tradisional kaum kadazan dusun: Magavau, Humabot, Sumazau, Bobohizan dan Lain-lain

Artikel ini saya perolehi daripada Perpustakaan Negeri Sabah yang ditulis oleh Datuk Jintol Mogunting.

Jika selama ini kita selalu mendengar lagenda Huminodun yang telah dikorbankan oleh kedua orang tuanya untuk keselamatan dunia, kali ini menurut versi yang diceritakan oleh Datuk Jintol Mogunting ini, agak berbeza penceritaan yang ditulis beliau. Datuk Jintol merupakan anak kepada bekas Ketua Anak Negeri, Mogunting Bin Botinjam. Seorang berbangsa Kadazan dan merupakan anak jati Sabah yang banyak mendengar kisah-kisah lagenda cerita rakyat Sabah yang diwariskan turun-temurun kepada beliau. Cerita ini turut diperolehi beliau daripada nenek moyangnya. Ceritanya berbunyi begini :

Pada suatu masa dahulu, terdapat sepasang anak, seorang lelaki dan seorang perempuan. Kedua-dua anak tersebut berasal daripada batu. Batu-batu itu terapung di tengah-tengah ruang angkasa. Tidak berapa lama kemudian batu tersebut terbelah dua, menyebabkan kedua-dua anak tersebut lahirlah ke dunia. Yang lelaki bernama Huminodun dan yang perempuan bernama Suminundu.

Apabila kedua-duanya sudah dewasa, mereka jatuh cinta lalu berkahwin dan mereka dikurniakan seorang anak perempuan. Mereka kemudiannya menamakan anak perempuan tersebut dengan nama Hinokizan. Keduanya amat menyayangi Hinokizan. Hinokizan lahir dengan wajah sempurna, comel dan sihat. Huminodun dan Suminundu sangat gembira dan bangga kerana memiliki anak sedemikian.

Sejak Hinokizan lahir menyerikan kehidupan kedua Huminodun dan Suminundu, mereka bekerja keras dan bertungkus-lumus mencari nafkah keluarga bagi membesarkan Hinokizan dan untuk kehidupan mereka sekeluarga. Setiap hari, Huminodun keluar memburu binatang ke dalam belantara berdekatan kediaman mereka. Suminundu pula menguruskan rumah, ke hutan mencari kayu-kayu, mencari benih-benih tumbuhan untuk ditanam dan sesekali menebas semak-samun di sekitar rumah untuk dijadikan kawasan tananam bagi menanam benih-benih tanaman yang diperolehinya.

Pada suatu hari, pergilah Huminodun berburu ke dalam belantara. Tinggallah Huminodun dan Hinokizan di rumah. Huminodun telah pergi dengan lama sekali sehinggakan Suminundu kesusahan, tiada bekalan makanan yang cukup untuk mereka dua beranak. Pada masa tersebut, tanaman tidak menjadi kerana kemarau dan bencana yang tidak diketahui puncanya kepada masyarakat ketika itu. Dengan rasa berat hati, suatu ketika Suminundu membawa Hinokizan ke sebuah kawasan tanaman yang telah dibersihkannya bersama seuncang biji-biji benih untuk di tanam. Suminundu kemudiannya telah menanam kesemua biji-biji benih tersebut di kawasan tapak semaian yang telah dibersihkannya sebelum itu. 

Suminundu dan Hinokizan duduk menikmati suasana hutan yang damai, walaupun cuaca agak panas membahang ketika itu. Angin damai masih bertiup, menyebabkan Hinokizan si anak gadisnya yang manja itu tertidur di atas rumput. Suminundu mencari kutu-kutu yang terdapat di rambut Hinokizan. Setelah anak gadisnya itu tertidur, Suminundu mencari kekuatan di dalam dirinya untuk melakukan sesuatu yang amat dashyat untuk sebuah tujuan yang disimpannya di dalam hati. Suminundu mengeluarkan sebilah parang dan telah mengerat tubuh badan anaknya, darah memancut ke seluruh kawasan di mana Suminundu telah menanam kesemua biji benih yang dibawanya tadi. Suminundu merasa amat sedih namun dia melakukan sedemikian kerana makanan yang ada hanya untuk seorang sahaja dan dia sesungguhnya tidak mampu menyara kehidupan dia dan anaknya kerana Huminodun yang belum pulang-pulang itu.

Seminggu kemudian, Suminundu kembali ke kawasan di mana dia telah mengerat Hinokizan atas dasar kerinduan dan rasa sunyi kerana dia kini tinggal seorang diri di rumahnya. Huminodun belum juga pulang. Apa yang dilihatnya amat mengejutkan, kerana seluruh kawasan tersebut telah bertukar menjadi sebuah kawasan yang dipenuhi dengan tanam-tanaman yang sangat subur. Di situ bertumbuhlah tanaman seperti padi, jagung dan ubat-ubatan yang subur. Suminundu sangat gembira dan bersyukur kepada Kinoingan dan mengucapkan terima kasih kepada Hinokizan. dia percaya tanam-tanaman tersebut adalah jelmaan daripada darah, tulang, kepala dan bahagian-bahagian tubuh badan Hinokizan yang lainnya. Suminundu membawa semua hasil tanaman tersebut kembali ke rumahnya dan memasaknya sedikit demi sedikit. 

Tidak beberapa lama kemudian, Huminodun tiba-tiba muncul di muka pintu, mengejutkan Suminundu. Suminundu menerpa dan menceritakan segala-gala yang telah berlaku kepada mereka, iaitu dia dan Hinokizan. Huminodun tidak menyalahkan Suminundu, namun dia amat sedih atas kehilangan anaknya yang sangat dikasihi dan dirindui itu. Hasil buruannya diserahkan kepada isterinya dan kemudian Huminodun mengajak Suminundu untuk ke tempat kawasan di mana anak mereka telah menjelma menjadi tumh-tumbuhan itu. Huminodun mengalirkan airmata dan terus menebas sekitar kawasan tersebut sambil berduka. Dia merindukan satu-satunya anak mereka itu. Suminundu turut berduka dan merasa sangat sayu di dalam hatinya. 

Tiba-tiba kedengaran satu suara yang sangat lembut menerpa mengikut hembusan angin yang bertiup di sekitar kawasan di mana mereka sedang berada itu. Setelah diamati Huminodun dengan teliti, dia tahu dan pasti bahawa suara yang didengarinya itu adalah milik anak mereka, Honikizan. Hinokizan menyeru Huminodun dengan suara lembut meminta dia mendengar dengan teliti. Katanya;

"Pak, saya ialah Hinokizan. Saya dapat melihat bapa namun kalian tidak dapat melihat saya kerana saya telah menjadi tumbuh-tumbuhan di sini. Ambillah tujuh tangkai padi yang paling tinggi dan selepas itu ikatlah kesemua tujuh tangkai padi itu dan carilah buluh kecil, belah dihujungnya dan selitkan tujuh tangkai pagi itu di antara belahan buluh di hujungnya. Apabila kesemua padi sudah dituai, bawalah kembali tujuh tangkai padi itu dan simpanlah ia dengan selamat. Masukkan ia ke dalam sebuah tajau besar. Selepas tiga puluh hari saya akan lahir ke dunia menemui bapa dan mak kerana saya sangat merindukan bapa dan mak. Ingatlah kata-kata saya ini, jangan sedikitpun tersilap, pak. Jika tersilap, bapa dan mak tidak akan dapat berjumpa dengan saya lagi. Ingatlah pak... " kata suara itu lalu lenyap.

Huminodun menceritakan pesanan Hinokizan kepada isterinya. Sumindun merasa sangat gembira dan bersyukur kerana anaknya tidak menaruh dendam padanya. Maka kedua mereka menuruti kehendak anak mereka itu dengan penuh berhati-hati. Setelah genap tiga puluh hari, Suminundu dan Huminodun berkumpul di tepi tajau. Mereka menunggu dengan penuh kesabaran. Kira-kira waktu matahari hampir terbenam di sebelah barat , maka terdengarlah oleh mereka bunyi-bunyi aneh daripada tajau itu. Tiba-tiba Hinokizan keluar daripada tajau dengan berpakaian aneh, lengkap dan penuh wibawa seorang Bobohizan. Hinokizan turut membawa bersamanya peralatan-peralatan keramat seperti gong, sesevion, hinibu dan macam-macam lagi. Suminundu dan Hinokizan menerpa dan memeluk anaknya. Mereka sekeluarga amat gembira dan berpelukan melepaskan kerinduan.  

Mereka berpesta dan bersuka ria sepanjang hari. Hinokizan mengeluarkan peralatan-peralatan lain yang berupa alat muzik dan menunjukkan kemahiran yang diperolehinya dengan bermain alat-alat muzik tersebut. Mereka menari-nari sehingga terciptalah tarian Sumazau. Hinokizan turut memaklumkan kedua orang tuanya tentang upacara-upacara mogondi, momuinait, magavau, humabot, bobohizan, magang dan moginakan yang dilimpahkan Kinoingan kepadanya sewaktu di dalam kehidupan roh di dunia lain. Hinokizan juga turut mengajarkan cara-cara membuat ubat-ubatan daripada akar-akar kayu dan tumbuhan-tumbuhan hijau yang terdapat di sekeliling mereka bagi mengubati orang sakit. Hinokizan menunjukkan kepada kedua orang tuanya berkenaan cara pengubatan Monohindong dan Mogsisingkod yang dilakukannya sebagai Bobohizan. Huminodun dan Suminundu merasa amat gembira dan bangga dengan kebolehan luar biasa yang telah dikurniakan Kinoingan kepada anak mereka itu.

sekian.


Demikianlah sebuah cerita pendek yang saya petik daripada artikel yang ditulis oleh Datuk Jintol. Versi ini mungkin berlainan daripada yang biasa kita dengar selama ini. Huminodun yang diceritakan umum merupakan seorang gadis yang dikaitkan dengan unduk ngadau, perlambangan bagi kecantikan seorang wanita suci pada waktu matahari berada pada keadaan paling terang, namun di dalam alkisah yang diperolehi penulis lagenda Hinokizan ini, Huminodun merupakan seorang lelaki dan bapa kepada watak utama iaitu Hinokizan. Hinokizan merupakan anak yang dilahirkan semula daripada tujuh tangkai padi dan kononnya merupakan Bobohizan pertama yang dikurniakan kinoingan kepada dunia dan rakyat jelata yang dilanda bencana alam. Demikianlah cerita rakyat dari sebuah versi yang agak berlainan daripada versi yang kita selalu dengar seperti di buku-buku dan juga versi cerita Huminodun yang dinyatakan pihak Muzium Negeri Sabah sendiri. Cerita rakyat adalah milik sejagat. Oleh kerana cerita ini bersifat disampaikan secara verbal melalui keturunan demi keturunan, mahupun dari mulut ke mulut, maka kebenarannya adalah  tidak diketahui oleh sesiapapun. Kecualilah Cerita Rakyat ini pernah dibukukan pada zaman dahulukala ataupun tertulis secara batu bersurat dan sebagainya, maka kita haruslah menganggap bahawa cerita rakyat ini  sebagai khazanah bangsa yang harus dijaga dan dipelihara di dalam jiwa kita, anak-anak sabah. Bagi saya apapun cerita rakyat tersebut, apa yang harus diambilkira oleh para pembaca adalah nilai-nilai murni, nilai kebudayaan dan citra tempatan yang tersirat dan tersurat di sebalik cerita tersebut.



Semoga semuanya terhibur dengan cerita ini dan Pa'al ucapkan Kotobian Om Kounsikaan Tadau Tagayo Do Kaamatan Nayatan Pogon Sabah 2011!

Wassalam.


Ikhlas, 

Pena Alam 
31052011;0908

Sahabat lautan, sahabat kita ..penyu, tahukah anda penyu adalah haiwan yg diancam kepupusan? Penyu juga adalah haiwan yg diwartakan sbg spesies yg dilindungi kerajaan. Jadi adalah menjadi suatu kesalahan bg anda utk memelihara penyu di dalam akuarium, membunuhnya atau mengambil telurnya.. dan tahukah anda, penyu hanya akan bertelur semula selepas 3 atau 4 tahun selepas bertelur, maknanya jika anda makan telurnya, anda sama seperti pembunuh yg telah menelan segenerasi kehidupan sang penyu sama ada anda sedar atau tidak, setuju ataupun tidak..

Sayangi Alam!

Sayangi Alam!
Orang Utan juga diancam kepupusan ..

HIS GIG IS GETTING BIG!

HIS GIG IS GETTING BIG!
My Lil bro, Guba will be playing at the Eco Film Fest 2011 this 29th October at University Malaya, Kuala Lumpur .... Please visit this website for more info on the event - http://ecofilmfest.my/eff2011/other-attractions/x-plugged . CONGRATS TO MY BRO.. CHAIYOO CHAIYOO....

GUBA LIVE SHOWCASE IN ' NO BLACK TIE', KUALA LUMPUR

GUBA LIVE SHOWCASE IN ' NO BLACK TIE', KUALA LUMPUR
Sunday, September 25 at 9:30pm - September 26 at 12:30am : Laguna Music’s latest artists will light up NBT’s stage. Lab The Rat is an up and coming alternative-indie-folk band and was Malaysia’s representative at the Global Battle of The Bands (GBOB) 2008 in London. They will share the stage with label-mate Guba. Tickets: RM35 + Free Drink (First 50pax get free CD single featuring new songs from both artists) Bookings: Call 03-21423737 (If making a booking make sure tickets are collected by 6pm before the start of the event) ====================================== GUBA Gabriel Robert Rawantas, fondly known as ‘Guba’ is a Sabahan singer-songwriter who has been singing his own written compositions for the past 13 years – albeit only to himself in privacy – until now. Describing his music as alternative-folk, he flew in to Kuala Lumpur after accepting a job offer, and there discovered Greenhouse Studio in Ampang where he took the songs he had penned to be recorded. He was snapped up by the founders of Laguna Music as soon as they realized that the music they had coming through was a rare find, earning him their support and signing with them to produce his forthcoming debut album. Guba’s first single You & Me, released in July of 2011 is a briskly paced drive in the voice of a young couple falling out of love, realizing their alliances are no longer to each other, and thus trying to end it kindly. Set to be released in September is his second single, Sunday Morning is a more positive side of Guba, taking listeners through a tune sang about the freshness and liberation of Sunday, the day of freedom for most of us. Sunday Morning makes for a good winding down soundtrack to end the weekend to. For his upcoming debut album effort, Laguna Music pulled together a team of musicians and collaborators enviable by any rising musician, with the likes of SevenCollar T-shirt frontman and guitarist Saiful Ridzuan and Jeffrey Little of Prana heading the team as producers. Multi-award winning songstress, Yuna has also collaborated with him in the soon to be released tender duet You’re So Fine after being wowed by Guba’s demo song about the vulnerable professing of deep devotion and innocent love that was played to her. The track will also be featured in the soundtrack for the upcoming movie titled KIL. The path seems to have cleared for Guba’s full-on charge into the hearts and song books of music lovers, all that’s left for you to do is to take up the open invitation to be moved by his music.