Ahad
bernafas hingga hari ini..
Jumaat
MJ ..may his soul rest in peace

air tangan ku..

Gulai lemak pisang
bahan-bahan:
- 10 biji pisang emas muda (siat kulit luar saja jangan sampai ke isinya, belah dua atau potong serong, rendam dalam air bergaram)
- 10 biji cili padi ( ditumbuk, boleh kurangkan atau tambah cili padi tu, ikut 'ketahanan' lidah)
- 2 biji cili merah (buang biji - ditumbuk)
- sebesar ibu jari kunyit hidup ( ditumbuk)
- 10 biji bawang merah (ditumbuk)
- segenggam ikan bilis ( ditumbuk)
- 2 batang serai ( dititik)
- setengah biji santan kelapa segar
- asam keping
- garam dan perasa
- Mula-mula tumbuk cili padi bersama cili merah dengan sedikit garam, masukkan ikan bilis dan tumbuk sekejap. jangan sampai terlalu hancur
- Celurkan sekejap, pisang muda yang telah dibersihkan dengan air mendidih sampai lembut sedikit. Toskan airnya.
- Sediakan periuk, masukkan asam keping, serai, santan dan bahan-bahan yang sudah ditumbuk. Kacau selalu supaya tak berketul dan kecilkan api. Masukkan pisang dan gaul lagi, hati-hati jangan sampai pecah minyak.
- Bubuhlah bahan perasa
cuba lah .. mana la tau sedap.. huh! pa'al loved this very much!
keroncong hujan

dpd Adibah Noor
Mega mendung di angkasa
hembusan bayu dingin terasa
grimis berderai di merata
bagai mutiara
Rahmat di bawa bersama
limpahannya meresap di jiwa
adakala bahgia terasa
meskipun duka nestapa
Tika hujan turun sayu
mendayu lagu keroncong
merdu irama di alun
bersenandung
Hujan membasahi bumi
melahirkan keluhuran budi
mengerat perpaduan suci
kasih sayang abadi
Rabu
sahabat di tirai besi
kasih sahabat
tak bisa terjalin
terhalang benua
terhalang tembok
tersisih lidah bahasa
aku katakan
antara kau aku
semua jadi kita
sama mewarna
putih hari-hari
jadi banyak cerita
aku juga katakan
bahawa manis kata
ramah tulus hati
itulah jambatan
hubung dua hati
jadi sekuat akrab
di tirai besi ini
kau beritakan
awan hitam melarik
menutup telaga mu
lalu kau melafaz ingin
menjirus haus tekak mu
dengan air dari awan putih
aku katakan pada mu
walau sehitam air tersentuh
masuk terselit di lelangit mu
tertanam tertulis di dahi mu
tangan ini sedia berjabat
menggengam jari mu
meminpin bahu mu
aku menantikan mu
agar dapat sama menari
di bawah cahaya rembulan
bila kau temui merpati mu
dalam lembaran terbaru
sejarah jangan terulang
wahai sahabat ku di tirai besi
Pena Alam
bukit ledang, kuala lumpur
3 june, 2009
pagsisisi
bagung buhay
pero bakit ganito
ang aking ginagawa
ay walang pag-babago
walang pag kakaiba
Dito sa loob ng tahanan
mga kasamay di kilala
iba-ibang lahi, ia-ibang salita
di nagkaka intindihan
di nagkakunawaan
pero sama-sama
sa hirap at ginhawa
sa araw-araw na lumipas
isa lang aking nadarama
lungkot at pagkasabik
sa pamilyang aking iniwan
sa aking bangsa
ewan kuba bakit
pamusok sa aking isipan
aking sariling bansa
ay aking nilisan
marahil maghanap
ng trabaho para malibang
at mabigyan ang aking pamilya
ng magandang kinabukasan
Heto nga at nangyari na
ang diko inaasahan
ako ay napunta sa lugar
na walang katahimikan
ng aking puso at isipan
Pero sa araw-araw
na ginawa ng bathala
ako ay naghihintay
na magkaroon ng himala
At laging nananalangin sakaniya
na bigyan ako ng pag-asa
na makapiling muli
ang aking pamilya
na iniwan ko sa aking
sarilin bansa
by maricel I. Abad
june 3rd, 09
rpwkl, bukit ledang, kuala lumpur
(maricel, i'm honoured .. to write n posted ur poem here, by the time u read this, u might be somewhere out there, having a good time in FREEDOM, i wish u all the best..in life ahead n future undertakings.. do remember me!)
Isnin
kaamatan yang hilang
pada serangkum nostalgia
diperbaringan mu di sini
merenung rentet pelangi
yang terbit di pucuk akasia
dalam gerimis siang ini
Bunyi gong itu menggamit rindu
pada senyum keibuan mu
tika kaamatan singgah lagi
di halaman kampung kita
tika meranum emas buah padi
di belantara saujana sawah
Di sini di pusara mu
terimbas lagenda bangsa kita
Menyambut runduk tadau
setiap mei tiba penghujung
si gadis dimahkota matahari
dialah huminodun mengorban diri
demi sesuap nasi semangat bumi
Merundung sayu suminundu
juga dewa kinoringan di takhta
bila gadis mulianya tinggal nama
bersemadi jasad tumbuhlah tuaian
dari kakanan bangkit di hari ketujuh
jadi pedoman batas tingkah
hati luhur itu mengubat bencana
Tersayu kami akan dikau
keringat mu basah tak pernah hirau
mencurah emas padi dari basung
girang kita minsirid atas kulobon
bangga melihat tangkop terisi
menjulang syukur pada rezeki
kurniaan tuhan sepanjang tahun
Kini hanya ada hening ini
tersulam di wibawa pusara mu
yang membuat jiwa ini rebah
menyoroti ilham kenangan kita
yang tersejat oleh batas masa
sepi dalam gempita sumazau
melayan sendu dalam episod
epilog sebuah kaamatan yang hilang
Pena Alam
pesta menuai 2009
kolupis-bukit ledang, kuala lumpur
Khamis
hari lahir trudy..

"Selamat hari lahir untuk puteri ku..trudy elisabeth, 4 tahun hari ini.. dan aku tak bersamanya di sana. Sedih juga, kerana tugas terpaksa juga berjauhan, namun Doa dan harapan menggunung, moga semuanya sukses dan kami akan meraikannya bila aku kembali ke sana semula.. Lambat tak apa, asalkan dapat bersama juga akhirnya, kan.. :-) "
Selasa
Suntuk

waktu
menjatuh
ku rangkul
ia menjauh
lantas mencair
di celah jemari
di celah kuku
waktu itu
bagai dataran
bila ku jejak
jadi berbukit
lalu mengensot
terus lenyap
degup jadi hebat
peluh bermanik
berantai di kulit pipi
bukti gelisah resah
ingin berlari deras
tapi kaki terkunci
dalam kesingkatan
waktu melayang
semakin suntuk
Pena Alam
26 Mei 09
Ahad
kucing kampung..
Selasa
Pesta Kaamatan, Huminodun, Unduk Ngadau dan sanggul bulat ..dalam slanga urang-urang sabah..
Ahad
mari dengar muzik..
jemput bertandang ke sini..http://myspace.com/gabrielrobertrawantas
..dan dengarlah skejap luahan hati anak muda dalam karya tersendirinya..
pls find, life ..and when the angels weep..
timakasi :-)
Khamis
dan rindu pun menggunung..

Kedamaian itu
tersuluh di mata mu
kerinduan itu
merimbun di kota hati
bacalah tenungan hebat
yang tersembunyi
dalam celah mata
yang bergenangan
yang penuh cerita
sandiwara derita
kalau kau sudi
melamar pergi duka
dia kan di lambungan
menunggu kapal mu
datang memunggah janji
Bersama sukacita
ke pulau harapan
dalam tenang bahagia
Pena Alam
Kudat 2009
Rabu
Pusara Yu



Pusara Yu
Kita pernah bertemu di sana
Di bawah birunya arus lautan
Di mana aku jatuh hati melihat mu
Pada gagahnya kau menongkah arus
Menggegarkan keinsanan ku yang gugup
Pada lincahnya gerak tangkas mu
Deras kepahlawanan raja lautanmu
Membuat kau tak gentar walau sedetik
Kita bicara dengan cinta dari mata
Walau aku bertepuk sebelah tangan
Hanya memuja keghairahan mu pada hidup
Namun pertemuan di sini meluluh hati
Bergelimpangan badan mu jadi hanyir
Mata mu putih angkara rakusnya rantaian itu
Kau hilang di sini pada saban tahun berganti
Seratus juta setiap tahun, berkali-kali
Siapa peduli berapa lagi tertinggal?
Siapa peduli cinta-cinta kami buat mu?
Mereka tak peduli, mereka tak kisah
Di pelabuhan itu kau ditinggal bongkang
Tanpa sirip-sirip lembut yang cuma seinci lebar
Dikerat dilapah mereka yang lapar gaji bulan
Badan mu sugul mati, terasa keji, minta dikebumi
Yang membunuh, yang meminta, yang menawar
Membuat kau terhina terbaring telanjang
Kebinasaan spesies mu makin mendatang
Dibaham generasi homo-sapiens yang gelojoh
Meratah kecil suku daerah gagah tubuh mu
Skala industri menjadi-jadi, harga dirinya tiada lagi
Mako, Thresher, Blue, Leopard, Hammerhead, White Tip
Mati dalam delikasi kejam kegilaan dunia
Dihirup-hirup kedai sup berbintang
Harga cebisan dirinya melambung tinggi-tinggi
Enaknya disanjung-sanjung untuk dibunuh lagi
Kematian ini sia-sia, kematian ini suatu jenayah
Tradisi segenerasi yang menelan pupus
Sebuah hikayat sejarah haiwan hutan terumbu karang
Yang bakal hilang ditelan zaman
Pena Alam
Semporna-Kudat
99-09
Ahad
Keputusan II
sebuah cerpen..sambungan entri APRIL 'keputusan'.... karya Pena Alam..
Sepuluh tahun kemudian..
Dadanya gemuruh. Rasa geram dan gelisah silih berganti, berpanjang-panjangan.
"Ini semua tak terjadi, ini semua tak benar, aahhh..." pekiknya di dalam hati, sewaktu menyelak langsir tingkap.
Ketukan penuh bertenaga pada daun pintunya membuat dia tersentak. Dia menekan dada dan menekup wajah,
"Puan Aida. Budak-budak dan pengiring lagi bersukaria kalau puan ada bersama. " kata Sismi, dengan wajah ceria yang menyenangkan hati mengiringi nada serius sambil berguraunya, setelah beberapa ketika berbicara tentang sesuatu dengan wanita bernama Aida itu. Keakraban antara anggota di institusi itu membuat segala urusan mudah. Mereka saling menghormati.
"Aku harus mengelak darinya. Aku tak sanggup melihat dia. Sebenarnya aku benci, benci walau hanya mendengar namanya. Benci yang ku pendam selama sepuluh tahun. Biar kebencian itu terpendam selamanya. Dan namanya mati dalam ingatan. Seharusnya ingatan padanya, tak lagi memberi erti pada ku. Tapi mengapa ingatan itu membuat aku serba tak kena, aku benci perasaan ini. Aku harus pergi sementara. Lari darinya. Dari A. Donovan yang akan bersama-sama para penjaga anak-anak di institusi ku dalam sessi suai kenal penghuni baru. A. Donovan, aku tak sudi melihat mu" demikian tempik hatinya, berperang dalam emosi sendiri.
Demi mengelak lelaki bernama A.Donovan, Aida berdiri di situ. Dikelilingi alam kehijauan hutan belantara yang segar. Mindanya benar tenang sedikit, walau nama lelaki itu sering melintasi benaknya berkali-kali, sejak kenangan akan nama itu sirna sepuluh tahun lalu. Nama yang membuat lehernya terasa seperti dijerut kembali. Cepat-cepat dia menepis rasa itu, lalu turun berkaki ayam, memijak rumput-rumput pagi yang masih berembun. Rumah peranginan di situ tersergam indah, begitu natural di dalam belantara yang dihiasi aliran anak sungai yang berair jernih. Burung-burung pagi bersiulan lembut, bersopan, seakan mengerti kehadiran anak-anak manis ke situ, yang masih lagi beradu dalam mimpi-mimpi indah mereka. Aida membawa langkah menuju hadapan, entah ke mana, melintasi beberapa chalet papan yang berbentuk klasik, seperti rumah imaginasinya ketika zaman kanak-kanak. Pandangan leretnya ke tepi-tepi jalan itu membuatnya lalai dan leka, sedikit lupa diri, sehingga tiba-tiba dia merasa sensasi kesakitan yang amat sangat pada dahi dan bahunya, bagai dipukul benda sekerasnya. Pandangannya kabur seketika. Dia menahan sakit dan tubuhnya sedikit terhuyung-hayang ke tanah. Namun sebuah tangan kejap kelelakian memeluknya, dan menahannya dari jatuh tersembam ke tanah. Serentak itu, sebuah benda kecil, berupa telefon bimbit jatuh berderai ke tanah.Pecah.
"Maaf..aduhh, maaf, saya tak sengaja.." Aida memegang dahinya, melepaskan diri dari pelukan singkat yang menyelamatkannya dari terjatuh tadi. Lalu dia duduk bertongkat lutut, mengambil telefon bimbit yang bercerai berai di atas jalan. Telefon bimbit milik lelaki berpakaian serba putih yang berdiri tercegat di hadapannya. Kebingungan dan rasa bersalah menguasai dirinya, kerana lalai dan akibatnya melanggar lelaki di hadapannya sehingga menyebabkan telefon bimbit si lelaki itu berkecai ke atas jalan.
"Atie! Atie Aida...!" pekik lelaki itu. Lalu dia jatuh di atas lututnya, di hadapan Aida, lantas memegang Aida. Aida terpaku memandang takdir pagi itu. Wajahnya bertukar pucat lesi. Inilah yang
"Amri. Amri Donovan! Mengapa kau ada di sini?", Aida mendongak melihat lelaki itu. Jantungnya berdegup kencang dan nafasnya seakan terhenti. Buat seketika itu, mereka berpandangan. Amri memandang tepat ke mata Aida, Atie Aida. Jantungnya mungkin sudah terlepas dari dadanya. Dia memegang seeratnya bahu itu. Tak mahu melepasnya. Dia tahu, rindunya sudah meletus dan mengalir bagai air sungai yang pecah dari sebuah empangan rasa seluas dunia. Airmatanya tak mampu lagi ditahan. Mengalir, menitis dan membasahi pipi lelakinya. Terharu dengan pertemuan yang tak disangka pagi itu.
"Atieee..." katanya keras dalam deraian airmata dan nafas yang tertahan-tahan, separuh berbisik. "Benarkah ini kau, Atie??"
"Bukan. Atie Aida sudah mati. Mati. Kau tahu
Atie Aida melepaskan genggaman kuat di bahu tadi, lalu berlari dalam derai airmata dan hatinya yang terlalu sebak. Kenangan seabad lalu menoreh kembali parut luka di hatinya yang sudah lama sembuh. Dia berlari dan terus berlari, hingga sampai ke hujung jalan belantara peranginan itu. Dia berhenti, dalam esak tangis berat dan airmatanya yang mengalir deras. Di hadapannya, tasik melebar seluas saujana, dan dia berdiri di situ, di pondok yang diciptakan di tepi tasik itu.
"Mengapa kau lari dari ku Atie? Aku tak akan biarkan kau melarikan diri lagi, seperti yang kau buat sepuluh tahun lalu. meninggalkan aku seorang diri di pantai itu. Aku hampir membunuh diri, selama sepuluh tahun ini, mencari kau Atie. Nyawa ku sudah tak berharga dan aku hilang punca. Aku hidup tanpa perasaan dan aku ingin kau tahu.."
"Kau ingin aku tahu apa, Amri? Bahawa kau sudah bahagia dan sudah berjaya melupakan aku kini? Ingatan padamu membuat aku sakit. Selama sepuluh tahun ini aku membenci gemersik cinta lelaki. Apa sudah terjadi kepada mu? Mana kebahagiaan yang kau dapat dari dia? Mengapa kau mengejar aku?".
"Aku sudah puas mengejar bayang-bayang mu, Atie. Aku hidup dengan kenangan akan dikau. Aku dan dia tak pernah bahagia. Kerana setiap detik pun, aku tak pernah melupakan nama mu. Kau yang ku mahukan, tapi kau tak pernah muncul dan tak pernah mencari ku semula. Aku mencari mu di serata alam. Tapi aku gagal ."
Atie Aida merenung tepat ke dada tasik, hatinya sedikit terusik akan kebenaran yang baru disedarinya. Dia tergamam, lidahnya kelu dan tekaknya terasa kering. Fikirannya buntu, namun hati sebaknya masih berdegil untuk cekal dan menafikan kebenaran yang baru didengarnya. Dia mula mengesat airmata, lalu perlahan duduk lemah di pangkin kayu dipondok itu. Memujuk hati agar berhenti menangis, lebih tabah dan menghentikan kepiluan yang mengatasi rasional dirinya. Amri menyertainya lalu duduk berhadapan. Pandangannya tak lepas dari Atie Aida. Dia merasakan kesugulan jiwa yang membebani dirinya mula mencair, demi melihat Atie Aida yang dicarinya selama sepuluh tahun ini.
“Aku di sini kerana akhirnya, Tuhan mendengar doa ku selama sepuluh tahun ini. Atie, aku mencari mu. Tapi aku tak pernah berhasil. Pagi ini, aku amat bersyukur kerana ia menemukan aku dengan mu. Atie, bolehkah aku merayu mu supaya kau sekurang-kurangnya berada di mata ku, kalau pun di hati mu tiada lagi ruang untukku?.”
Atie Aida tertawa hambar, menjeling tajam pada Amri, tawa itu penuh sinis. Dia melemparkan pandangan berat ke dada tasik semula.
“Apa pun maksud kata-kata mu itu, aku tak berminat. Rasa benci pada cinta lelaki sudah sebati dalam jiwa ku. Hati ku sudah mati untuk merasa kasihan. Jangan kau
“Sejarah yang membuat aku tersiksa..” detik hati Atie Aida di dalam hati. Hatinya kembali sebak dan airmatanya menitis lagi. Amri sudah jauh dibelakang. Berdiri sepi di pondok itu. Belantara yang sepi itu seakan terdiam menyaksikan drama antara dua insan yang menghiasi pagi yang masih berembun itu. Tasik seluas itu menjadikan panorama pagi tambah syahdu. Seketika itu, langit mula bertukar mendung.
“Atie, kau penipu. Kau kata hati mu mati, tapi aku tahu kau masih mengingati ku, seperti aku. Aku masih cintakan kau Atie, dan aku tak pernah melupakan mu. Berhentilah membohongi hati mu. Institusi itu bukti kau punya banyak rasa kasihan . Kasihanilah aku Atie, terimalah aku kembali.” Jerit Amri, kedengaran dari kejauhan, mematikan langkah Atie.
Hatinya berdegup kencang. Airmatanya kembali mengalir dan dia benci mendengar suara itu. Suara yang pernah membuat hatinya bingit rindu. Suara yang telah juga menafikan cintanya sepuluh tahun lalu. Yang membuat hatinya kecewa, dia meneruskan langkah, lebih laju.
“Aku tak pernah mengahwini dia. Aku tak pernah kembali kepadanya. Aku tak dapat hidup dan membohongi jiwa ini Atie. Aku menunggu mu Atie. Kasihanilah aku. Aku terlalu cintakan kau, Atie.” Jerit itu kedengaran lagi. Atie tersentak, langkahnya mati lagi. Dia berdiri sepi. Terkedu mendengar kebenaran itu, dia sungguh tak percayakannya.
“A. Donovan Junior itu bukan anak ku. Aku tak pernah ada anak. Dia anak Adam Damian, abang ku yang mati dalam kemalangan. Tapi sungguh aku kasihkan anak itu seperti kalau aku ditakdirkan punya anak sendiri”, kata-kata dan suara Amri semakin mendekat di telinga Atie Aida. Dia berada di belakangnya. Dan mereka berjalan seiringan, meninggalkan pinggir belantara indah itu. Di antara dua hati itu, berbicara sendiri. Tanpa kata. Parut dalam, yang tertinggal di dalam jiwa mereka sejak perpisahan sepuluh tahun yang lalu itu, menjadikan keduanya berdiri di atas batas garisan yang halimunan. Menghalang mereka untuk mendekat rasa.
“Atie, aku dan rombongan anak-anak muda pemain hoki yang kubimbing ini akan berangkat malam ini. Kami akan kembali ke
Atie Aida menghentikan keretanya. Antara meneruskan perjalanan itu atau berpatah kembali. Dia melihat mentari yang semakin menurunkan sinar di hadapannya. Melaui cermin pandang belakangnya, dia melihat garisan jalan yang panjang, berliku-liku dan menghilang di sebalik rimba yang mula menghitam. Hatinya jadi sayu dan dia ingin menangis. Terngiang-ngiang bait-bait kata Amri yang didengarnya dihujung jalan belantara peranginan itu, seminggu yang lalu. Kata-kata yang sekali lagi menggegarkan keinsanan seorang Atie Aida yang diragut seorang lelaki bernama Amri Donovan sepuluh tahun lalu. Namun di akhir pertemuan lalu di belantara itu, segugus kata-kata Amri Donovan yang melekat benar dalam kotak mindanya, membuatnya hampir sampai ke situ, ke suatu tempat yang tak pernah terfikirkan akan dijejakinya lagi. Ke pantai itu. Pantai yang menghiris hatinya sepuluh tahun lalu.
“Atie, aku tahu begitu sukar untuk kau memaafkanku. Aku telah melukakan perasaanmu dan kau tak perlu pun memaafkan aku. Aku tak layak dimaafkan.Tetapi, jika kau temui walau sekelumit pun rasa maaf dan kasih lagi pada ku, datanglah ke pantai itu. Pantai terakhir sewaktu kita bertemu sepuluh tahun yang lalu, pada hujung minggu depan dan aku akan menunggu mu di situ, sehingga senjakala meminta diri. Andai kata kau tak muncul, tahulah aku, bahawa harapan ku sudah tiada. Dan aku tak akan menyimpan harapan atau menggangu hidup mu lagi, Atie Aida.”
ulasan ..Keputusan
"Alangkah pentingnya membuat keputusan dalam hidup insan. Setiap hari orang membuat keputusan untuk dirinya. Hidupnya. Sehingga tidak membuat keputusan pun sebenarnya satu keputusan walaupun keputusan yang lemah."
Waktu membaca kata-kata itu, kebetulan pa'al mengambil keputusan untuk malas-malas, menghabiskan hari, dengan baring-baring meluruskan tulang belakang di hujung minggu.
Pa'al suka sms itu, membuat diri tersenyum dan berfikir.
The biggest loser is me, i guess??
Untuk hidup, harus makan. Makan jangan terlebih. Makanlah bila perlu. Untuk hidup sihat, malas jangan dilayan.
Bagaimana pa'al hilang 10kg dalam masa 5 bulan?
Rejim senaman:
Isnin - Jumaat : Jogging + Jalan kaki : 500 meter x 10 laps atau aerobik di gymnasium rakyat saja .
Diet :
1. Sarapan pagi, mesti (makan apa saja..)
2. Makan tengahari (very small portion dan berhenti makan sebelum kenyang, kalau tak lapar, tak payahlah makan)
3. Makan malam sebelum jam 7pm (sepotong bread wholemeal kosong dan minuman favourite- nescafe 3 in 1)
4. No SUPPER and 'no in-between meal'
Booster : "Myself are my biggest challenge"
DISIPLIN. Keazaman yang kuat. Kalau ingin mencapai 10 laps sehari, mesti capai, jangan malas, jangan bagi alasan pada diri sendiri. Jangan malu untuk bersenam bersama orang lain. Paling penting jangan tidur di masa-masa ini - 4pm to 7pm, masa ini adalah masa untuk bersenam, buat apa saja yang keluarkan peluh, get out from your office!!!!... and breath deeply, biar matahari membakar kulit mu sedikit before it sets. Orang kurus pun kena bersenam untuk fit, kurus tak bermakna sihat.
Tak payah query, i did my stuff with my own determinations and it works for me, well, it does'nt mean it works for you or your body, i mean no harm, just to motivate and inspire you a bit. Loss 10kg.. from 63kg to 53kg in 5 months, i guess, i am the biggest 'loser', but i feel blessed!
Rabu
Burung..
Anekdot
Pelik kan, jiwa grunch, tapi kalau perut lapar, mesti teringat perut ni menyanyi lagu keroncong, siap dengan tajuk lagu, tapi penyanyinya aku tak tahu, tapi setelah mencarinya di google, namanya Henri Rotinsulu. Wah, klasik! aku suka. Lagunya 'rindu lukisan'. Mendayu-dayu, irama halwa telinga jam lima pagi, waktu zaman budak-budak dulu. Kisah bersama datuk, peminat lagu keroncong dan dondang sayang. Dia pesara polis dan jiwanya klasik. Pagi-pagi, jam lima di Sabah masih gelap gelita, dia sudah mandi, segak wangi dan duduk baring tenang, bersandarkan empuk kerusi kayu dan desir-desir embun pagi, meneruskan hubungan baiknya dengan secawan kopi pekat yang manis sedap. Sambil meneguk kopi, dia mendengar lagu-lagu klasiknya. Irama keroncong dan dondang sayang. Kucing-kucing pun masih malas-malas, tapi bangun dan datang duduk bersamanya di bawah kerusi malas kayu datuk. Gambaran itu sering menerjah minda ku, kerana aku rindu atuk dan kampung. Terutama sekali tika lapar datang, orang selalu mengatakan, lapar dan perut akan berkeroncong. Jadi aku pula, kalau lapar, perut berkeroncong mengingatkan aku pada datuk yang suka irama keroncong.
Jauh mata fikir ku melayang, hanya kerana perut yang lapar. Sebenarnya bukan cuma lapar, mungkin aku kebuluran pagi ini. Kurasakan paras glukos dalam darah benar-benar sudah turun kerana mungkin semalam aku malas makan. Sambil berjalan laju, sempat juga aku terpandang seorang lelaki yang berdiri di luar wad itu, wad di mana para wanita-wanita hebat menzahirkan kasih pada sang suami dengan melahirkan zuriat ke bumi yang banyak pancaroba ini. Lelaki itu seperti cacing kepanasan cuma dia tak melupur. Tapi dapat ku lihat jiwanya kacau, mungkin takut terjadi apa-apa pada isteri yang sedang bertarung di medan 'perang' di dalam sana. Peluhnya menitis-nitis di celah anak rambut di tepi telinga. Aku tersenyum, entah, rasa lucu pula bila melihat lelaki-lelaki yang berdiri-diri di luar wad itu, bagi ku mereka patut berada di dalam dan bertarung bersama. Dan aku mendoakan agar semua selamat baginya, di dalam hati. Langkah ku teruskan, perut makin sakit. Sakit lapar.
Beberapa langkah, kakak kolar biru dengan troli kuning menghentikan langkah ku dengan ucap selamat pagi. Aku membalas ucap riang itu dan melemparkan senyuman. Masih mampu tersenyum, walau kelaparan berada di tahap kemuncak. Dia mengatakan 'seorang wanita berbaju kuning yang mendukung anak itu, mencari ku' dan seraya itu, jari telunjuknya menghala ke arah wanita yang berjalan jauh menuju ke pejabat ku nun jauh di sana. Aku memutuskan, selepas makan nanti kami akan bertemu, dan sebelum itu dia pasti menemukan tempat duduk selesa dengan kipas-kipas nyaman di lobi unit di sana, sementara menunggu ku. Aku mengiyakan dan mengucapkan terima kasih pada kakak itu. Sebelum berlalu, sempat dia berbisik pada ku. " wanita itu, giginya tinggal dua, tapi sampai hati dia memanggil ku makcik". Lalu kami berdua tertawa kecil. Aku merasa betul-betul lucu, tumpang simpati juga dengan kakak itu kerana tentu dia merasakan dirinya tua dari semalam. Aku hanya tersenyum, mendoakan agar harinya akan baik-baik saja dan berlalu.
Di persimpangan jalan ke tempat makan yang hanya tinggal beberapa langkah, sahabat menunggu ku dengan senyum manisnya. Tudung hitamnya yang lembut menari-nari dibuai angin. Dengan pantasnya, aku mengimbas kembali cerita berbagai rasa yang ku alami tadi. Memori akan datuk dan Henri Rotinsulu, lelaki itu dan isterinya yang sedang 'berperang' serta kakak kolar biru dan wanita bergigi dua. Semuanya menyeri kotak fikir ku yang sebenarnya dipenuhi jamuan makanan grandiose yang kuidamkan kerana terlalu lapar. Kerana langkah yang banyak disinggahi peristiwa jamuan mata bagi ku tadi, aku hanya makan sedikit. Hilang juga lapar. Aku pun kurang pasti, aku hilang selera kerana terlalu lapar atau selera ku sudah 'dibawa lari' kerana klimaks lapar ku sudah berlalu melihat troli kuning kakak kolar biru tadi. Yang pastinya, wanita berbaju kuning itu sedang menunggu ku. Wanita yang hanya bergigi dua itu. Aku pun mengayuh langkah dengan perut kenyang, menuju destinasi. Dan lagu 'rindu lukisan' Henri Rotinsulu yang klasik itu, terngiang-ngiang di telinga, sepanjang jalan. Kali ini bukan kerana lapar tapi kerana rindu. Lukisan kaamatan yang akan menggamatkan senandung hari-hari orang Sabah di bulan Mei. Mungkin aku perlu balik kampung, mengubat rindu, berjumpa Kopral Kassim dan duduk bersamanya pukul lima pagi di cerun rumah sambil mendengar koleksi lagu-lagu keroncongnya yang syahdu.
Selasa
Wasted sunsets..
Wasted Sunsets
for Nad, Ju and Ryati
remember me
u know theres one wonderful sunsets
in every end of the days
u know theres one beautiful moment
at the climax of every sunsets
i'll be far but closer to your hearts
i knew i'll be missing layers of episodes
stories of the setting sunny days
but for sure i'll be here for the rising sun
catching memories, blessing the silents
i love you all with my heart and soul
let the miracle of friendship dwells
within our hearts and minds forever
this friendship is God's most precious gift
let us cherish the moment we'ved had before..
Friendship forever..
Pena Alam; 21apr09;1649hrs
Sayangi Alam!
Orang Utan juga diancam kepupusan ..
Sahabat lautan, sahabat kita ..penyu, tahukah anda penyu adalah haiwan yg diancam kepupusan? Penyu juga adalah haiwan yg diwartakan sbg spesies yg dilindungi kerajaan. Jadi adalah menjadi suatu kesalahan bg anda utk memelihara penyu di dalam akuarium, membunuhnya atau mengambil telurnya.. dan tahukah anda, penyu hanya akan bertelur semula selepas 3 atau 4 tahun selepas bertelur, maknanya jika anda makan telurnya, anda sama seperti pembunuh yg telah menelan segenerasi kehidupan sang penyu sama ada anda sedar atau tidak, setuju ataupun tidak..



