Maka lihatlah;
Di langit
rembulan sepi,
kepul awanan hening
bintang-bintang berpelukan
angin malam mencatat rindu
dalam relung lembut embunan
berguguran melankoli dalam gemalai
menyapa kelopak dingin fajar sidik ini
Tuk,
Bening resah ini adalah selautan rindu
buat nenda yang bertelimpuh nestapa
hibanya bersungai, derita takkan lerai
rindu meruntun setiap rintik hujan membumi
Di langit
rembulan sepi,
kepul awanan hening
bintang-bintang berpelukan
angin malam mencatat rindu
dalam relung lembut embunan
berguguran melankoli dalam gemalai
menyapa kelopak dingin fajar sidik ini
Tuk,
Bening resah ini adalah selautan rindu
buat nenda yang bertelimpuh nestapa
hibanya bersungai, derita takkan lerai
rindu meruntun setiap rintik hujan membumi
setiap senyummu menuntun pekat sabarnya
jadi luluh laksana pelupuk bunga-bunga kering
yang berterbangan lembut atas dingin pusaramu
Tuk,
Dikaulah bujangga!
penyair ulung kami
setiap dinihari bersadba
Desa tenang ini abadi buat engkau
menghadap diri sesudah menang
engkau pejuang! lelaki paling sejati
yang permisi dalam jauhari terhebat
selamat tinggal Atuk
selamat tinggal bujanggaku!
Pena Alam
Kota Kinabalu - Lembah Muhibah, Sipitang
131110
(Sebuah puisi untuk datuk pa'al - Peter Kassim Kadau yang telah kembali ke pangkuan yang Esa pada 13 November, 2010 , 4.50pm)
jadi luluh laksana pelupuk bunga-bunga kering
yang berterbangan lembut atas dingin pusaramu
Tuk,
Dikaulah bujangga!
penyair ulung kami
setiap dinihari bersadba
Desa tenang ini abadi buat engkau
menghadap diri sesudah menang
engkau pejuang! lelaki paling sejati
yang permisi dalam jauhari terhebat
selamat tinggal Atuk
selamat tinggal bujanggaku!
Pena Alam
Kota Kinabalu - Lembah Muhibah, Sipitang
131110
(Sebuah puisi untuk datuk pa'al - Peter Kassim Kadau yang telah kembali ke pangkuan yang Esa pada 13 November, 2010 , 4.50pm)

bahasa yang anda gunakan agak tinggi.. saya jadi terkapai-kapai pula..
BalasPadamInsanmelankolik...
BalasPadamtimakasih kerana sudi baca puisi2 saya...
bahasa biasa saja ni, hehe..